daewanggyo yang menghubungkan ke daewangam
pagi ini kumulai dengan membuka weather, maklum semalam suhu ulsan lebih dingin dari gyeongju. sedangkan hari ini kami berencana main ke pantai. ragu untuk menggunakan pakaian santai atau baju hangat. suhu menunjukkan 7 derajat. kubuka jendela dan merasakan hembusan hawa dari luar. ok, sepertinya aku mampu dengan pakaian santai.
maunya mantai santai, berakhir dengan kemana-mana gendong keril
we want senderan atau sekadar taroh keril bentar
turun ke lobby penginapan ternyata tidak ada petugas. sedangkan semalam kami lupa meninggalkan pesan untuk menitipkan bawaan. jadilah rencana jalan-jalan santai berakhir dengan menggendong keril selama perjalanan. it's ok, karena kami mau mantai, jadi harusnya tidak perlu usaha banyak. dan ternyata ucapan itu salah.
ilsan beach
pasir putih yang nyaris tanpa ombak, akan nyaman jika suara alat berat di sebelah kanan itu tidak terlalu bising
kami berhenti di bus stop sekitar ilsan beach. melihat pantai putih nyaris tanpa ombak membuatku ingin sejenak selonjoran di sini. tapi sekarang masih terlalu pagi untuk menikmati hawa pantai yang bukannya sejuk melainkan semilir dingin. belum lagi suara kapal dan deru mesin yang cukup mengganggu. tampak ada project yang sedang berjalan di sini. baiklah, mungkin saat pulang nanti kita bisa rehat sejenak di sini. 
ditambah lagi suara project pembangunan atau pembersihan kotoran ini
tracking menuju daewangam park, lengkap dengan keril
tujuan kali ini adalah daewangam park dengan spot incaran menurut rista adalah jembatan di atas pantai. oh my god, i'm forgot dengan kata 'di atas'. dan ternyata... untuk mencapainya kau perlu tracking naik bukit dulu. aku bersyukur menggunakan pakaian nyaman pagi ini. tapi beban keril kami bukan hal mudah untuk diatasi tanpa persiapan seperti ini. membiarkan rista naik dulu, aku memilih untuk menikmati sejenak ilsan beach sekalian persiapan dengkul dan mental. akan kukejar jika dia sudah di luar jangkauan pandang.
sudah 1/3 perjalanan, masih ada 2 tanjakan panjang lagi di depan. jangan sedang dulu
1/3 tanjakan kedua, untung sebelumnya udah uphill 2 gunung so ga kaget-kaget banget
daewangam park dapat dicapai dengan public transport dilanjutkan berjalan kaki dari ilsan beach. atau menggunakan kendaraan pribadi langsung ke tempat parkir bagian atas. rute yang kami ambil adalah rute pejalan kaki melalui ilsan beach berlanjut dengan puluhan anak tangga. tangganya rapi, hanya napasnya yang susah diatur untuk rapi pagi-pagi.
welcome to daewangam park, drinking water buat yang ngos-ngosan nanjak
fasilitas umum daewangam park, termasuk toilet menghadap laut
setelah berhasil melalui puluhan anak tangga, kau akan menemukan jalan datar sekaligus tempat parkir luas dan drinking water yang menjadi entrance taman ini. dari sini perjalanan sangat nyaman dan ga ngos-ngosan. walking trail yang membelah hutan pinus sejauh 700 meter sampai ke ulgi light house. jalurnya lebar, rimbun dengan dedaunan dan -yang utama- datar. serta lengkap dengan fasilitas umum seperti tempat istirahat dan toilet. sebenarnya melalui rute ini sangat nyaman. tapi mengingat berbagai usia yang melaluinya, wajar jika disediakan banyak spot istirahat.
banyak bangku istirahat di sini, but it's my favorite. you know why :) -meow-
bukan naga apalagi dinosaurus, yang kami lihat di sini adalah kucing nyasar di bebatuan. ternyata ini ada alasan model bangku barusan. dasar kocheng!
jalur lurus walking trail hanya sampai ulgi light house. dari sini dimulai rute berliku turun menuju daegwanggyo, jembatan yang menghubungkan pulau utama dengan daewangam -the great king's rock-. ada yang menyebut bebatuan di sini seperti naga menggapai langit. ada juga yang mengumpamakan formasi bebatuannya di sini serupa fosil dinosaurus berbaring. ntah mana yang paling tepat, tetapi bagian akhir yang paling jauh dan paling tinggi dinamakan daewangam.
ulgi light house
jalur turun menuju daewanggyo. ini adalah bagian ujung bawahnya, aslinya lebih curam jika dari ulgi light house
 untuk mencapai viewing spot ilsan beach dari ketinggian perlu nanjak lagi sedikit
terdapat persimpangan menuju daewanggyo. kanan, kiri atau turun ke bawah. di sebelah kiri kau akan menemukan view ilsan beach dari ketinggian. sedangkan jika ingin merasakan air laut, kau dapat memilih jalur ke bawah. berbatasan dengan laut inilah terdapat tempat makan terbuka yang menjual seafood segar hasil tangkapan haenyeo atau wanita laut, wanita penyelam yang berasal dari pesisir korea. menurut info mereka mampu menyelam sampai 20 meter dan menahan nafas sampai 2 menit.
tempat makan seafood segar, bersih dan ga bau amis
haenyeo atau wanita laut
langsung pilih, langsung disiapkan oleh haenyeo
bagi kami ini masih terlalu pagi untuk menyantap seafood. apalagi seafood segar yang tidak diolah dan disajikan dalam bentuk raw meet. tapi yang aku salut adalah kebersihan tempat ini. walaupun yang dijual berasal dari seafood hidup yang langsung dibersihkan dan disajikan setelah dipilih oleh konsumen, tapi tempat ini tidak kotor sama sekali. jangan khawatir tentang higienitas karena mereka sangat menjaganya. jauh lebih bersih dibanding dengan seafood kaki lima di indonesia.
menghadapi terpaan angin laut menuju daewanggyo
sedikit lagi menuju daewanggyo
akhirnya bisa melepas keril sejenak sambil menikmati pemandangan laut
kembali ke atas, angin laut menerpa dengan kekuatan luar biasa. suhu 19 derajat sebenarnya cukup sejuk jika tanpa hembusan angin kencang. namun saat ini kekuatan anginnya agak ga sopan. jika dibanding dengan terpaan angin di biseondae, ini masih lebih sopan. tapi jika kau tidak lengkap dengan heattech dan windbreaker, siapkan saja tolak angin setelahnya.
sangat lega bisa melepas keril sebentar sebelum nyeberang jembatan
mengistirahatkan bahu dan punggung sekalian menunggu antrian
sambil memandang awan yang mirip ekor kucing
walaupun masih pagi, pengunjung daewanggyo cukup banyak. kami putuskan mengistirahatkan punggung -akhirnya bisa lepas keril- sejenak sambil menunggu flow pengunjung sedikit menurun. jembatan penghubung ini dibangun pada 1995 dengan donasi dari hyundai heavy industries yang pabrik terbesarnya berada di ulsan. seperti kata rista, selain daewangam, daewanggyo merupakan daya tarik daewangam park
antrian daewanggyo dengan wisatawan lokal
susah dapat view kosong, bahkan photobomb-nya lebih atraktif dibanding kami
masih tetap atri sampai ke daewangam 
pada siang hari kau dapat menyaksikan pemandangan bebatuan yang kontras dengan birunya laut lepas. sedangkan di malam hari, lampu warna-warni yang diinstal pada jembatan menjadi pemandangan unik. selain pemandangan lampu yang unik, di sini juga diadakan daewangam moonlight festival pada bulan september-oktober sejak 2017. jika kau berkunjung ke ulsan pada bulan tersebut, silahkan mencoba pemandangan malam di daewangam park.
bebatuan daewangam, menurutmu ini punggung naga atau dinosaurus? iya, memang ada kucing di batunya -meow-
ntah naga atau dinosaurus, kalau yang ini pasti ekornya
kami jelas tidak mencari pemandangan malam karena sudah sangat puas dengan view di kala siang. pengalaman melintas jembatan daewanggyo sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi pemandangannya yang berbeda. hal ini terbukti dari antrian melintas jembatan yang banyak dipadati oleh wisatawan lokal.
daewanggyo yang sebenarnya nyaman kalau tidak ramai orang 
sayangnya tetap harus antri ke puncak daewangam 
top of daewangam, space-nya ga luas walaupun dari sini dapat memandang laut lepas. tapi view belakangnya lengkap: ulgi light house, daewanggyo sampai ilsan beach kelihatan semua
jalur jembatan kokoh dan rata, penasaran apakah akan licin saat terkena hujan. sementara lebaranya hanya cukup untuk papasan 2 orang, pergi pulang. ujung jembatan yang berada di pusat daewangam membentang pemandangan laut lepas. sementara jika berbalik ke belakang kau akan menyaksikan ulgi light house dan daewanggyo sebagai latar. tidak banyak waktu yang kami habiskan di bagian ujung karena kapasitas ruang yang ada tidak sebanding dengan kapasitas orang yang datang. setidaknya cukup untuk sebuah pengalaman dan cerita yang berbeda di korea selatan.   
***
previous
next
perjalanan menjelajah 4 islands
keindahan pantai dan kepulauan indonesia memang tidak kalah dari thailand. tapi untuk paket tour-nya, di sini lebih mudah ditemukan. paket tour 4 islands misalnya, dapat diakses dari krabi maupun ao nang. kami memilih mengambil paket dari ao nang supaya tidak harus bangun pagi buta. sebagai informasi, ada paket yang dapat dibeli di krabi tetapi tetap saja berangkat dari dermaga ao nang. karena jarak 4 islands ke krabi lebih jauh dibanding ke ao nang.
sarapan sebelum main air, biar ga masuk angin
paket tour 4 islands pun tidak perlu kau pesan sebelum datang ke thailand. tinggal turun ke jalan dan dan kau akan menemukan banyak kios yang menawarkan paket tour ini. sama seperti di vietnam, kami memutuskan membeli paket tour dari penginapan. selain karena fasilitas penjemputan dan sempat sarapan, kami juga mendapatkan free 4 islands trip with long tail boat untuk 1 orang. memang sih tidak bisa memilih jenis kapalnya, tapi dengan menginap 3 hari atau lebih di ao nang cliff view resort, kau otomatis mendapatkan free trip ini.
dermaga ao nang, besok ya kita naik itu, hari ini naik long tail boat dulu
dermaga long tail boat ao nang 
hari saat perjalanan kami dimulai dengan sarapan di penginapan dan berkumpul di dermaga ao nang. kami harus melintas pantai menuju long tail boat kami bersandar. ok, ini adalah kapal besar dengan kapasitas puluhan orang. kebetulan juga hari ini adalah long weekend sehingga banyak wisatawan datang. semoga perjalanan kami tetap menyenangkan.
bongkar muat long tail boat 
muatan long tail boat, ga over load sih, suma penuh
walaupun pemandu kami tidak begitu lancar berbahasa inggris, tapi sangat helpful dan memastikan semua peserta tripnya sudah lengkap. hanya saja, setiap pulaunya kurang dijelaskan detail tentang apa yang menarik dan wajib dikunjungi di sana. fungsinya lebih seperti time keeper yang menginformasikan kapan kapal sadar, kapan kapal berangkat dan menghitung jumlah anggota per kapal.
pasirnya sih putih, cuma lautnya yang ga bersih
pas dapet pasir & pantai yang agak bersihan, walau bukan spot utama di pulau ini
tempat pertama yang kami kunjungi adalah phra nang cave beach. kami tidak tahu nama dan apa yang menarik di sini karena pantai sangat ramai dengan long tail boat. saat meninggalkan pulau, kami baru tahu bahwa bagian menarik pulau ini adalah goa serta kuil yang didirikan di mulut goa. jangan lewatkan mengunjungi kuil yang ada di sebelah kanan pulau dari arah kapal sandar. kami melewatkannya karena kurang penjelasan dan banyak kerumunan di sebelah kanan sehingga memilih menjelajah bagian kiri pulau.
pantai yang ramai dengan liang tail boat, bahkan ada beberapa yang sengaja parkir dengan menawarkan makanan. semacam rumah makan terapung
pulau ini adalah pulau tidak berpenghuni. tetapi keramaian wisatawan dimanfaatkan warga dengan maksimal. sampai ada long tail boat khusus yang disulap menjadi tempat makan terapung. tidak mau makan di atas kapal, kau bisa membawa santapanmu di pantai. sayang, waktu singgah kami tidak banyak bahkan untuk memesan 1 menu makanan.
melanjutkan perjalanan menuju koh gai atau chicken island
break sejenak di chicken island
dari sini kami beranjak ke koh gai atau lebih dikenal chicken island. bukan karena banyak ayam di pulaunya tetapi karena bentuk unik puncak gunungnya yang menyerupai ayam. kali ini kami tidak bersandar melainkan berhenti sejenak di lautan. pemandu memberi waktu 30 menit untuk yang ingin berenang maupun snorkeling
buat yang bisa berenang atau ada alat, ada pilihan aktvitas untuk snorkeling
buat yang tidak, bisa memberi makan ikan. jangan lupa bawa biskuit yang banyak karena mereka sangat agresif menyambut makanan datang
sayangnya tidak disewakan apalagi disediakan alat snorkeling di sini. dan tidak ada informasi di awal bahwa kita akan ada kesempatkan untuk snorkeling. alhasil kami cukup puas dengan memberi makan ikan-ikan dengan bekal rista karena camilan dia lebih cocok dengan selera ikan :D. jenis ikan di sini tidak berbeda dengan di karimun maupun kepulauan seribu. jenis yang akan memanggil kawanannya jika ada yang memberi mereka makan. menyenangkan.
sandbank between koh mor and koh tub
kenyataan tidak seindah iklan, it's crowded with boats and people
melanjutkan ke destinasi berikutnya, kami bersandar di antara koh mor dan koh tub. sepertinya keramaian di sini semakin menjadi. dua pulau yang terhubung dengan sandbank menjadi semacam alun-alun tempat semua orang berkumpul. kali ini kami tidak hanya berbagi tempat dengan sesama turis asing melainkan juga dengan wisatawan lokal. jadilah kunjungan di sini tidak seperti yang diiklankan di brosur-brosur perjalanan maupun kartu pos dan media sosial.
jangankan spot snorkeling, spot parkir saja terbatas 
cari spot kecipak-kecipuk saja terbatas 
destinasi yang katanya jarang dikunjungi kenyataannya justru menjadi lautan orang. tepian sandbank pun sudah mirip dengan parkiran kapal. snorkeling melihat ikan? jangan harap, karena kau akan lebih mudah menemukan kepala orang yang tidak kau kenal. this beach is consider to be one of the beautiful strips of sand in the world, at least when it is not crowded with boat and people.
antri pembagian ransum makan siang
menu makan siang yang dibagikan di koh poda
trip ini semi piknik, rice box provided. tapi baru dibagikan di pulau terakhir, koh poda. sistem pembagiannya pun tidak seperti yang kubanyangkan, 1 kotak per orang, melainkan mengantri jatah semacam pembagian bantuan. dan lagi-lagi karena kurangnya informasi dari pemandu, kami hanya fokus dengan pembagian makan siang tanpa tahu jika objek yang wajib dikunjungi di koh poda adalah iconic rock-nya. sekali lagi, kami menyadarinya saat sudah meninggalkan pulau.
koh poda iconic rock yang baru kami tahu saat perjalanan balik
end of trip 4 islands
menyesal? iya, sedikit. karena tidak mendapatkan kesempatan mengambil foto yang bagus dari masing-masing pulau yang kami kunjungi. baik karena kurangnya informasi atau karena kelebihan pengunjung. tapi setidaknya keinginan kami bermain air di thailand tersampaikan. sesuatu yang jarang kami lakukan karena keseringan city trip mulu. so... kapan terakhir kau main air?
dosol maeul menu
makan dan jalan-jalan is my passion. apalagi jalan-jalan sambil kulineran. setelah sebelumnya mencoba gyori gimbap, sebagai makan malam kami memutuskan untuk mencoba makanan mahal -versi kami-. full set menu di dosol maeul.

dosol maeul berada di seberang cheonmanchong. rumah makan ini langsung menghadap tembok pembatas cheonmanchong. nuansa tradisional yang ada di kawasan ini semakin diperkuat dengan hanok dan menu makanannya. menu yang disajikan adalah menu tradisonal korea dan disantap di dalam hanok. suasana kekeluargaan sangat terasa di dalamnya.

kau dapat langsung memesan makanan begitu memasuki rumah makan pada kasir yang berada tepat setelah pintu masuk. atau melihat-lihat menu terlebih dahulu di dalam hanok. walaupun bergaya dan menyajikan menu tradisional, penyajian makanan mereka tidaklah lambat. bahkan tergolong cepat.

memang tidak semua makanannya panas. mungkin untuk mempertahankan flow pengunjung sehingga pengunjung berikutnya tidak menunggu lama dan tidak ada antrian panjang. atau mungkin juga sebagian besar pengunjung di rumah makan ini adalah wisatawan. sehingga kebanyakan dari mereka memesan menu andalan atau penasaran dengan menu tradisional korea seperti kami.
수리산 정식
menu yang kami pesan adalah 수리산 정식 dengan harga ₩ 10.000 per orang. ini adalah full set menu pertama paling lengkap yang pernah kami jumpai di korea. saat pertama kali datang yang menjadi pertanyaan apakah kami sanggup menghabiskan semuanya?

수리산 정식 untuk 2 orang terdiri dari main dish berupa ikan semacam sarden dan ayam mirip dengan semur. belum lagi korean pancake dan semacam lumpia basah. serta berapa side dish dari yang baru pertama kumakan sampai yang rasanya familiar, mirip intip goreng yang disiram dengan saos asam manis.

pada dasarnya nyaris semua makanan korea di sini cocok dengan lidah indonesia. rasa makanannya akan mudah kau kenali karena serupa dengan makanan indonesia. yang berbeda hanyalah porsi makanannya yang cukup heboh untuk kami berdua. belum lagi gyori gimbab yang belum sepenuhnya tercerna.

walaupun pada akhirnya kami mampu menghabiskan semuanya, tetapi waktu yang kami butuhkan tidak sebanding dengan waktu yang digunakan oleh orang-orang korea untuk makan. terbukti dengan meja sebelah yang sudah berganti beberapa kali, sedangkan kami masih berjuang menghabiskan porsi makan kami masing-masing. sepertinya langkah yang diambil rumah makan ini untuk meminimalkan antrian pengunjung akan gagal jika sebagian besar pelanggan adalah orang-orang seperti kami -lol-.
NewerStories OlderStories Home