bergumul dengan pasir dan kerikil gunung guntur

gunung guntur dengan view gunung cikuray
serasa ada yang kurang ketika agustusan ga muncak. setelah lama mengenal orang-orang ini, muncak tiap 17 agustus semacam menjadi kebiasaan. berhubung sudah banyak yang memiliki keluarga kecil mereka, hanya ojan dan jun lah -awalnya- yang bisa diajak muncak bareng. mumpung long weekend juga.

mengingat ini hari jumat dan ada kewajiban yang harus dijalankan, kami pun sepakat berkumpul di pom bensin guntur sore hari. tapi menjelang siang jun mengabarkan tidak dapat bergabung. sedangkan tenda di dia. ribut sebentar tapi ok lah, jangan sampai keributan ini mengacaukan rencana pendakian kami. setidaknya masih ada ojan buat teman jalan. perkara nanti tidur dimana kita pikirkan kemudian.
gunung guntur dilihat dari meeting point pom bensin guntur
tetap dengan meeting point pom bensin guntur aku pun melaju ke garut. apa daya perjalanan siang saat long weekend sangat lama, penuh kemacetan. menjelang maghrib baru sampai tujuan. tapi masalah tidak selesai di sini, ternyata ojan yang ga punya tenda baru menginformasikan kalau ternyata dia tidak membawa nesting dan kompor. fine! lalu bagaimana kami dapat bertahan di atas gunung tengah malam? tanpa nesting, tanpa kompor, bagaimana jika kami kedinginan? tanpa makanan atau pun minuman hangat. tanpa tenda pula.

sebenarnya bisa dipaksakan naik malam turun siang tanpa perlu nenda karena memang tidak ada tenda. tapi ditambah tidak ada kompor untuk membuat secangkir cokelat hangat atau semangkuk mie rebus saat menunggu fajar datang sepertinya cukup berat. puncak dingin cuy... aku lebih memilih jalan cepat daripada jalan tanpa logistik dan kehangatan -halah-. berunding sambil makan malam, akhirnya kami sepakat untuk tek tok gunung guntur. 
salah satu pilihan tempat untuk menghabiskan malam di garut
sembari menunggu fajar bisa numpang tidur di basecamp. mungkin akan lebih mudah mencari ruang karena kami hanya berdua. tetapi menunggu malam di garut ternyata bukan hal mudah. kota ini terlalu kecil untuk dijelajahi. sudah muter sana sini tetap saja tengah malam tak kunjung datang. ya sudah langsung aja ke basecamp gunung guntur. siapa tau bisa lebih cepat tidur trus lebih pagi jalan.

dan benar, di basecamp gunung guntur kami bisa menemukan tempat untuk sekedar rebahan menunggu fajar. sesuai perkiraan juga karena cuma berdua kami bahkan dipersilahkan untuk tidur di dalam rumah. thanks to pemilik warung yang sekaligus menjadi lokasi basecamp
rekan pendakian gunung guntur
kami berencana memulai pendakian pukul 4 pagi, estimasi perjalanan naik turun 8-9 jam. so sekitar makan siang bisa sampai bawah lagi. bangun pukul 3 langsung siap-siap sambil memesan sepiring nasi goreng. ingat ga punya nesting untuk memasak sarapan maupun makan siang, jadi harus mempersiapkan perut untuk 9 jam ke depan. setelah sarapan dan packing ulang untuk memperingan pendakian tek tok kami pun memulai perjalanan. 

track awal gunung guntur dimulai dari basecamp lurus ke atas. saat bertemu pertigaan tetaplah pada jalur kiri -jalur kanan jalan buntu- sampai bertemu kandang ayam di sebelah kanan jalan. melewati kandang ayam kau akan menemukan rumah pendopo yang dijaga anjing. jangan lari jika anjing menggonggong di sini karena dia akan mengejar siapa pun yang berlari di depannya. jalan santai saja karena katanya ada beberapa pendaki yang menjadi korban gigitan saat berlari melintasi jalur ini. si anjing cuma menggonggong doang, ga menggigit jika kau jalan tenang. so far saat kami lewat si anjing cuma mengonggong bentar, bosan dan akhirnya diam membiarkan kami jalan.
fajar di sekitar pos 2
setelah tantangan anjing inilah mulai tampak jalur pendakian yang berbatu dan berpasir. aku sangat mensyukuri berjalan dini hari sehingga tidak terlalu terik dan debu masih berat dengan calon embun yang membuatnya tidak sembarangan berterbangan. perjalanan dari basecamp sampai pos 1 membutuhkan waktu sekitar 15-30 menit. pos 1 sekaligus menjadi pintu masuk tempat membayar tiket 10 ribu per orang -sebenarnya kami membayar saat turun karena dini hari belum ada petugas tiket, hanya petugas jaga-. sementara di basecamp tadi tidak dipungut biaya apa pun, mereka hanya menyediakan kotak donasi seikhlasnya. petugas pos 1 hanya mencatat jumlah orang yang naik dan rencana pendakian. tidak sampai meminta tanda pengenal.

dari pos 1 inilah jalur sedikit membingungkan karena kami harus menyeberang sungai kecil. salah tempat menyeberang bisa-bisa salah jalur pendakian. dan itulah yang terjadi. cukup lama bergumul sebelum akhirnya menyeberang dan... setelah sungai inilah kau akan menemukan jalur yang penuh dengan bebatuan. bukan hanya kerikil dan pasir seperti perjalanan ke pos 1 melainkan batu-batu besar yang bahkan nyaris setingggi aku. lagi-lagi aku bersyukur kami jalan saat gelap, jadi ga down duluan menyaksikan semua rintangan bebatuan ini. cukup jalanin saja walau dengkul ketemu dahi, merayap bukan mendaki dan menebak pinjakan yang kokoh di sana sini.
jalur berpasir dan berbatu, ini masih ringan, banyak yang lebih parah
perjalanan dari pos 1 ke pos 2 membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih karena medan yang berbatu. menjelang fajar saat matahari mulai memunculkan semburat jingganya kami sampai di pos 2. setelah break sambil mencatatkan diri di pos 2 dan meninggalkan tanda pengenal untuk pengecekan jumlah pendaki, kami pun melanjutkan pendakian yang sebenarnya. untuk yang melakukan pendakian 2 hari 1 malam, pos 2 adalah tempat yang tepat untuk mendirikan tenda. karena cukup datar dan ada sumber air, selain tidak ada pilihan lain untuk membangun tenda di pos lain. pos 1 terlalu dekat dengan basecamp dan pos 3 terlalu berangin.

pendakian dari pos 2 ke pos 3 adalah perjalanan panjang yang menyita tenaga, pikiran dan mental. jalanan berpasir yang membuatmu merasa sia-sia melakukan pendakian. maju 2 langkah mundur 1 langkah. selalu saja tergelincir pasir dan minim pegangan. belum lagi jika kau berpapasan dengan pendaki lain. memilih diam salah karena gerakan pasir ke bawah akan membawamu turun jika berdiam diri. sedangkan bergerak pun salah karena papasan dengan pendaki lain. belum lagi cuaca mulai menghangat dengan sinar matahari pagi membuat debu-debu yang sebelumnya berselimut embun bermunculan. sungguh, rasanya ga mau lanjut tapi tanggung sudah di tengah jalan. 
memidai lokasi tidur siang
butuh hampir 2 jam dari pos 2 ke pos 3. padahal jaraknya paling pendek dibanding jarak antar pos yang lain. semua jalur berpasir dan kerikil serta minim vegetasi sebagai pijakanlah yang membuat perjalanan ini menjadi lebih lama dari yang kuperkirakan. saat di pos 3 nanti, aku hanya ingin makan dan tidur. rasanya semua tenaga dan semangat sudah hilang untuk menghadapi medan ini. aku harus mengumpulkan semuanya lagi sebelum melakukan perjalanan turun kembali menghadapi jalur berpasir ini. 

dan ketika sampai pos 3, semua terbayarkan. pemandangan lepas yang menyajikan gunung cikurai di seberang. ketinggian dilihat dari ketinggian, sungguh mengagumkan. belum lagi puncak 2 dan 3 di depan sana. bukit-bukit lucu yang sepertinya seru untuk lari-larian. terlepas dari jalur yang tetap saja berpasir dan mengingatkanku akan kenyataan semangat serta tenaga nyaris nol. pos 3 sekaligus puncak 1 ini hampir tidak menyisakan tempat untuk sejenak melepas lelah. panas dan debu dimana-mana. tumbuhan yang ada hanya rumput, sedikit tumbuhan berkayu yang dapat digunakan untuk berteduh. ada 1 pohon pun harus berbagi dengan ojan. ok, mari kita bobo' siang...
sedikit lagi menuju puncak 2
1,5 jam melepas lelah sampai tak sadar matahari mulai meninggi. kaki kepanasan, pohon mulai tak berbayangan dan perut sudah keroncongan. melanjutkan perjalanan ke puncak 2 dan 3 sepertinya hanyalah angan. daripada kesiangan dan kelaparan kami akhirnya memutuskan untuk kembali turun. ternyata perjalanan turun lebih menantang. walaupun memang lebih cepat karena kita bisa memanfaatkan momentum pasir yang menggelincir untuk mempercepat perjalanan turun tapi salah-salah yang ada justru ngegelundung. tetap kosentrasi, jangan kehilangan pijakan dan pertahankan tempo itu kuncinya. jika kau ga mampu sendiri, gunakan orang di depan kau -baca: ojan- :D.

pastikan gunakan alas kaki yang menutup kaki dengan benar jika tidak ingin cidera atau tergores batuan. minim jika kau pakai sandal gunung jangan lupa gunakan kaos kaki panjang. alas kaki yang benar akan menjadi kunci kelancaran perjalanan. sudah ditutup dengan benar saja bisa lecet tergores batu atau gesekan dengan kerikil apalagi yang tidak tertutup. kami harus beberapa kali berhenti selama perjalanan turun untuk membersihkan kaki dari kerikil-kerikil bandel yang nyelip di sepatu. jangan tanya tampang kami saat turun, sudah mirip manusia gulung debu kalau bukan udang goreng tepung.
end of trip
rata terbungkus debu sampai di pos 2. rasanya aku bukan ingin makan tapi pengen mandi membersihkan badan. mau bebersih di pos 2 sambil mengurus administrasi turun gunung juga percuma. kami masih harus melewati medan bebatuan yang juga berdebu. sekalian kotor, mari kebut sampai bawah. puji tuhan perjalanan ke bawah lancar. dengan 1,5 jam tidur siang di puncak 1 plus istirahat menghabiskan bekal di tepi sungai saat perjalanan turun ternyata kami tidak terlalu siang sampai basecamp. target 9 jam naik turun tercapai, sudah termasuk 2 jam lebih istirahat.
gunung guntur, done! yang penting pernah ngerasain
basecamp siang hari tidak terlau ramai karema memang masih banyak pendaki yang ada di atas atau justru yang baru memulai pendakian. tidak perlu antri lama untuk mendapatkan kamar mandi dan membersihkan diri. berpamitan dengan petugas basecamp sambil tak lupa memasukkan dana di kotak sumbangan dan kami pun siap menyambut makan siang. harus makan enak habis ini.-***-
NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment