fuji tempura idaten, ada yang bilang biasanya waiting line-nya panjang. beruntung aku bisa langsung dapat kursi 
saat hawa dingin, makan hangat adalah yang paling nikmat. tapi hanya ada sedikit pilihan di sekitar kawaguchiko station, apalagi petang menjelang malam. hanya ada convenience store setelah setengah 8 malam. sebelum semua toko tutup, mari kita mencari makanan hangat.
fuji tempura idaten tenar di kalangan wisatawan
beruntung di samping stasiun terdapat tempura restaurant yang masih buka. fuji tempura idaten, memiliki salah satu menu khas yaitu globe fish tempura. globe fish atau ikan buntal merupakan menu khas jepang yang penyiapannya memerlukan keahlian khusus untuk menghidari racunnya. menu yang belum pernah kucoba, very excited to order
menu khas fuji tempura idaten
kau dapat mencoba ikan buntal dengan memesan menu set tempura idaten (¥ 842) bersama set menu (¥ 302) yang terdiri dari nasi dan miso soup. set menunya pun ga pelit, kau bisa mengambil sendiri sebanyak yang kau mau, free refill. untuk pertama, ambil sewajarnya dulu.
open kitchen yang menyajikan makanan made by order
saat menunggu masakan disiapkan, tray kosong diletakkan di meja. untuk nasi dan miso soup, mereka juga hanya memberikan mangkuk kosong yang bebas kau isi
restoran ini tidak hanya menyajikan makanan segar, proses menunggu makan pun juga hangat. dengan konsep open kitchen kau dapat menyaksikan langsung para koki menyiapkan pesanan. kebersihan makanan dari bahan baku sampai dengan proses memasaknya dapat disaksikan sehingga yakin yang tersaji di mejamu adalah menu berkualitas.
tempura idaten set menu, paling depan sebelah kanan adalah golden fish tempura
pesananku datang begitu ditiriskan dari penggorengan. terdiri dari telur, ikan buntal serta satur dan jamur yang masih mengepul. ternyata rasanya hambar di lidahku. tepung tempuranya crispy tetapi tidak kaya rasa. kau harus meracik saus sesuai selera. 
telur rebus goreng, sama-sama telur rebus yang digoreng, aku lebih suka telur bulat balado -sorry to say-
tapi yang sehambar apapun kulit tempuranya, aku puas dengan ikan buntal yang akhirnya kumakan. potongannya kecil dengan terkstur yang lembut. golden fish tempura memiliki tekstur yang garing di luar, lembut dan sedikit basah di dalam. memang, makanan ini harus cepat-cepat dimakan dan tidak enak untuk dibawa pulang. worth to try.
jineng bali agro
rumah makan nyaman di gianyar. inilah keyword yang aku gunakan sampai menemukan jineng bali agro. tempat yang memiliki tagline eco eat and relax ini benar berada di tengah persawahan. sepanjang perjalanan ke sini kau hanya akan menemukan sawah di kiri kanan jalan.
bagian depan jineng bali agro yang tampak dari jalan, langsung berbatasan dengan tempat parkir
beruntung tempat ini memiliki tempat parkir luas di bagian depan sehingga mudah ditemukan di antara hijaunya persawahan. lokasinya cocok untuk bersantai sambil menghirup udara pedesaan karena banyak ruang terbuka. bangunan yang ada pun berbentuk rumah sasak dengan beberapa meja yang dibangun di atas kolam.
saung-saung yang berbentuk rumah sasak
rumah sasak utama di bagian depan digunakan untuk acara kelompok atau pesanan prasmanan
untuk kunjungan kelompok disarankan menggunakan rumah sasak yang terdapat meja panjang. sedangkan kami karena 2 orang menempati gazebo di atas kolam yang ternyata sangat sensitif terhadap goncangan. saat kami datang terjadi gempa ringan yang hanya kami rasakan dan tidak dirasakan pengunjung lain.
gazebo di atas kolam, air kolam goyang saat gempa dan kami lari tanpa ada yang merasa  
di bagian belakang terdapat kolam dan bean bag, sesuai dengan konsep relax yang mereka tawarkan. selain untuk bersantai, jineng bali agro juga menawarkan beberapa aktivitas seperti memberi makan ikan, memancing, agro tour, trekking dan cycling. kami mengetahui berbagai aktivitas ini lokasi. mencobanya? tentu tidak, karena kami ke sini untuk makan.
bean bag di bagian belakang cocok buat yang ingin lesehan sore
menu andalan mereka seperti mujair nyat-nyat, kakul suna cekuh dan es jimbal. aku skip kakul yang merupakan keong sawah dan mencoba mujair nyat-nyat (25k) belum termasuk nasi (5k) dan es jibal (15k). sedangkan rista memesan gurami bakar (38k) belum termasuk nasi.
es jibal 
mujair nyat-nyat
ntah karena sudah jam makan atau karena pemandangan, rasa dan harganya sangat memuaskan. ini adalah kali pertama aku mencoba mujair nyat-nyat, ikan mujair goreng dimasak dengan kuah encer tapi kaya rasa. aneka rempah yang dimasukkan kedalamnya umami, manis, asin, asam, gurih bahkan pedas. sayuran yang ada juga tidak terlalu lunak dan mempertahankan teksturnya. sedangkan es jimbalnya cukup banyak isi mulai dari jeli sampai aneka buah.
gurami bakar
sedangkan gurami bakarnya menurut rista standard, karena gurami tidak pernah gagal. menikmati menu mimuman kami sambil memandang matahari terbenam adalah pengalaman tersendiri di sini. sedangkan makanannya kami bawa ke penginapan karena kami masih awam dengan jalan persawahan. sebelum terlalu gelap, mari pulang dan menyantap makanan.
pelataran bawah waroeng tedoeh
mencari yang teduh di tengah panasnya jogja, cobalah melipir ke barat daya. di antara perbukitan kapur sambikerep, kasihan, bantul, kau akan menemukan rumah makan yang tidak biasa. waroeng tedoeh, berada di bibir lembah dan mengusung tema menyatu dengan alam. menyediakan banyak ruang terbuka walaupun tetap beratap.
akses masuk waroeng tedoeh yang berada lebih rendah dari jalan utama, untuk masuknya masih melalui banyak tangga turun
untuk mencapai tempat ini, pastikan kendaraanmu dalam keadaan fit. naik turun bukit adalah jalur yang harus dilewati mengingat lokasinya di bibir lembah bukit kapur. kontur lembah pun dimanfaatkan dengan baik sehingga hampir semua spot di rumah makan ini memiliki sirkulasi udara alami
banyak tangga yang didominasi dengan bebatuan
dan ruang terbuka masih dengan konsep bebatuan
sesuai dengan namanya, tempat ini berusaha memberikan keteduhan bagi pengunjungnya. banyak pepohonan ditanam di sela-sela lokasi out door yang membuat tempat ini terasa nyaman. keunikan lainnya adalah cara mereka memaksimalkan batu kapur penyusun kawasan ini. mereka menatanya cantik menjadi dinding ataupun tangga penyusun yang mendominasi bangunan di sini, walau ada juga beberapa sentuhan tradisional
ruang out door tetap teduh karena pepohonan di waroeng tedoeh, sedang ruang semi indoor memiliki sirkulasi udara bagus
sentuhan tradisional dapat ditemui di beberapa meja lesehan, terutama dari furniture dan bentuk bangunan
furniture yang digunakan mayoritas terbuat dari kayu memperkuat konsep menyatu dengan alam. walau ada juga daur ulang barang kuno seperti pompa air yang digunakan sebagai wastafel. atau kandang sapi yang diubah menjadi bilik makan. bahkan lesung atau penumbuk padi dan mesin jahit manual yang digunakan sebagai hiasan. 
memberdayakan barang kuno tidak hanya sebagai hiasan tetapi juga memiliki fungsi untuk pengunjung. ps: pompa air ini tidak dibisa dipompa seperti fungsi awalnya, perhatikan baik-baik dan kau akan tau bagaimana cara air keluar.
menu makanan waroeng tedoeh
tidak hanya suasana bangunan tradisional yang dihadirkan di sini tetapi juga menu makanannya. ingkung tenong menjadi salah satu andalan. bercitarasa tradisional dan sangat khas jogja, manis. daging ingkungnya empuk dapat disantap semua usia. tetapi untuk orang tua, sebaiknya duduk di lokasi atas sampai tengah. banyak tingkat ke bawah, tetapi perhatikan juga waktu dan tenaga yang harus digunakan untuk kembali ke atas. 
menu minuman waroeng tedoeh
walau pesanan kami tak kunjung datang, tetapi menunggu dengan view memanjakan seperti ini... ku takkan bosan
menu dan lokasi waroeng tedoh menjadi pilihan tepat untuk acara pribadi, kelompok maupun keluarga besar. dapat menjadi alternatif lokasi buka puasa, meeting kantor ataupun arisan keluarga. konturnya yang bertingkat membuat suara antar tingkatan cepat terbawa angin dan tidak menimbulkan kegaduhan bagi pengunjung lain. privacy pun terjaga jika kau melakukan pemesanan pada ruang-ruang tertentu.
paket ingkung potong waroeng tedoeh plus wedang asem. pesanan rista tidak kejepret
dan untuk pertemuan dengan banyak orang, aku sarankan book meja ini, pemandang tebingnya juara, udaranya enak, suaranya ga ganggu orang
tempatnya cantik, menunya unik. penasaran? siapkan segera untuk melaju ke sana. -***- 
candi tebing gunung kawi
gunung dibelah dijadikan jalan, atau gunung dilubangi dijadikan terowongan. sering kita dengar. tapi bagaimana dengan gunung dipahat dijadikan candi? pernah mendengar atau bahkan melihatnya? ternyata di indonesia kuno ada kemampuan yang menghasilkan karya demikian.
candi yang dipahat pada tebing gunung
bagian-bagian candi tebing gunung kawi
pahatan candi ini ditemukan di gunung kawi, tampaksiring, gianyar, bali. berbeda dengan gunung kawi, jawa timur yang terkenal karena mitos pesugihannya, gunung kawi di tampaksiring memiliki arti lain. kawi dalam bahasa bali bearti pahatan. candi tebing gunung kawi merupakan candi yang dipahat di tebing gunung. candi ini dipahat pada tebing batu padas yang berada di samping sungai pakerisan pada abad ke-11
harga tiket sudah termasuk kain, wajib digunakan untuk yang tidak menggunakan penutup kaki di bawah lutut. bisa juga menggunakan kain sendiri jika tidak ingin menggunakan kain di sini
jalan menuju candi, turun tapi rapi dan aman dilalui
tiket masuk seharga 30ribu, sudah termasuk peminjaman kain penutup kaki. waktu tempuh ke candi sekitar 15 menit. mayoritas rute yang dilalui adalah anak tangga turun dengan 3/4 perjalanan menyajikan pemandangan persawahan terasering. jika tidak sempat ke tegalalang, setidaknya kau sudah mencicip pemandangan hijau khas bali.
pemandangan sawah terasering menuju candi tebing gunung kawi
tidak luas tapi belum sah kalau belum turun ke sawah 
sekitar 100 meter sebelum gerbang komplek candi, perjalanan berubah menjadi membelah batu padas. tidak terbayang pada masa itu para pekerja mengeruk batuan padas demi pembuatan jalan masuk. setelah gerbang ini, candi tebing terbagi menjadi 2 bagian, barat sungai dan timur sungai
jalan membelah batuan padas menuju gerbang candi tebing gunung kawi
gerbang candi tebing gunung kawi
tidak seperti kebanyakan candi di bali yang disusun dari bata merah atau batu gunung, candi di sini terbuat dari batuan utuh. ada sumber yang mengatakan bahwa candi ini adalah tempat persemayaman raya udayana yang merupakan keturunan wangsa warmadewa. tetapi seperti biasa, sejarah budaya di indonesia belum terdokumentasi sempurna sehingga belum lengkap dan mendukung sebagai informasi wisata. wangsa warmadewa merupakan dinasti pertama yang menguasai bali. keturunan warmadewa lainnya yang juga memiliki peninggalan di tampaksiring yaitu indrajayasingha warmadewa, raja yang membangun tirta empul
candi tebing di sisi barat
absen, biar ga keliatan pergi sendiri
apakah benar candi tebing gunung kawi merupakan makam raja dan keturanannya? sejak ditemukan pertama kali pada 1920 oleh peneliti belanda, belum ada kesimpulan konklusif tentang tempat ini. tetapi lokasi ini sekarang digunakan sebagai tempat ibadah dengan dibangunnya pura di sekitarnya. sedangkan untuk pahatan asli yang masih terlihat adalah 2 komplek candi yang berhadapan mengapit sungai pakerisan, salah satu sungai yang dikeramatkan di bali.
sisa ceruk bagian kiri terlihat yang cukup luas walaupun sebagian sudah tergerus abrasi. kemungkinan adalah sebuah ruangan pada masanya. sedangkan ceruk bagian kanan hampir tidak berbekas yang saat ini tertutup dengan bale piasan
abrasi tidak hanya pada ceruk tetapi juga candi. abrasi paling parah dialami candi bagian selatan. selain ceruk dan candi, ornamen lain bisa dibilang masih utuh. begitu juga lubang air yang terdapat pada bagian depan masing-masing candi, lengkap ada 4, hanya saja sudah tidak berfungsi mengalirkan air. semacam bale pengaruman di sebelah kanan adalah bangunan baru yang penyusunnya sangat kontras dengan batuan candi
komplek di sebelah barat sungai adalah yang pertama kali kita temui dari gerbang masuk. komplek ini terdiri dari 4 candi yang diprediksi sebagai kuil untuk selir dan anak raja udayana. di sebelah kiri dan kanan candi terdapat ceruk yang diperkirakan sebagai ruangan besar. tetapi ceruk bagian utara sudah rubuh dan saat ini digantikan dengan bale-bale. komplek barat ini banyak mengalami abrasi tetapi pahatan candi masih bertahan dengan bentuk aslinya.
hampir semua bagunan candi masih bertahan dengan bentuk aslinya. kecuali keberadaan sanggah pamerajan dan lantai pelataran yang disusun dari batuan baru
sanggah pamerajan, bangunan baru menggantikan ceruk sebelah kanan
dalam perjalanan menuju ke bagian timur sungai, terdapat ceruk-ceruk lain yang lebih kecil tanpa keterangan. komplek bagian timur terdiri dari 5 candi. diperkirakan sebagai bagian utama candi, komplek ini dianggap sebagai tempat pemujaaan terhadap arwah raja udayana. kelima pahatan candi yang ada di sini lebih utuh dibandingkan dengan komplek bagian barat. ceruk yang mengapit candi pun masih terlihat jelas sebagai ruangan berpartisi
jembatan di atas sungai pakerisan, merupakan penghubung candi tebing gunung kawi bagian barat dan timur. pura di bagian belakang adalah bangunan baru
candi tebing di sisi timur
peninggalan lainnya yang masih terlihat jelas adalah kolam aktif. walaupun tidak ada keterangan apakah ini hasil pemugaran atau memang asli peninggalan. karena jika diperhatikan lebih seksama, lubang air yang ada di atas kolam terbuat dari semen, bukan dari pahatan batuan seperti yang ada bagian bawah setiap candi. komplek candi di sebelah barat juga memiliki pahatan batuan yang kemungkinan adalah lubang air tetapi sudah tidak aktif mengalirkan air lagi. lubangnya pun sudah tertutup rerumputan, mungkin karena abrasi hebat yang terjadi pada sisi barat. 
highlight sisi timur candi tebing adalah kolam yang masih aktif
kami tidak dapat naik ke pelataran candi karena digunakan untuk photo shoot
kekaguman kembali muncul saat menyadari bahkwa komplek ini dibangun pada abad ke-11. bagaimana seniman pada masa itu mendesain komplek ini dengan simetris dan berukuran besar? bagaimana para pekerjanya membelah batu padas untuk menghasilkan karya sesuai dengan imajinasi sang seniman? kekaguman ini membawa suasana magis selain dari vibe lokasinya sendiri.
tapi masih beruntung dapat pemandangan candi sisi timur yang dikatakan sebagai candi utama. padahal di sebaliknya banyak tumpukan tripod dan ransel2 kamera milik para pemburu foto 
sungai pakerisan yang mengalir di antara candi tebing. suara arus airnya, seakan menjadi pengiring doa ke sang hyang widhi
letaknya yang mengapit sungai pakerisan membuat dimana pun kau berada pada kompleks ini, suara alam, gemercik air menjadi back sound. ketenangan yang magis semakin membuat tempat ini terasa sakral. belum lagi pura yang dibangun di sekitarnya. tetapi  apakah pura ini dibangun dalam posisi aman? atau apakah ada situs yang dikorbankan demi pembangunan pura? mungkin para arkeolog yang lebih dapat menjawabnya.
pura di candi tebing gunung kawi. batu penyusunnya sepertinya sudah cukup tua. tapi apakah pura ini dibangun di lahan kosong atau mengambil sebagian situs peninggalan? tidak ada keterangan
sebagai orang awam, aku hanya bisa mengatakan, selama trip di bali, tempat inilah yang paling nyaman. apakah komplek ini adalah makam atau tempat pemujaan? yang terlihat olehku adalah kemegahan candi yang diukir pada batu padas. kekaguman pada nenek moyang bali yang berhasil mendatangkan perasaan nyaman lahir batin. jembatan penghubung dengan leluhur juga kedekatan dengan alam. gemercik arus sungai dan latar yang mendukung. pantas saja ada yang mengatakan bahwa ceruk-ceruk kecil di komplek ini adalah tempat meditasi.
siapa yang bisa menghindari pesona candi tebing gunung kawi? masih susah move on dari pemandangan ini 
satu kekurangannya hanyalah serangga. jika kau tidak bermasalah dengan serangga maka aku pastikan tempat ini adalah tempat paling nyaman. tetapi jika kau bermasalah dengan serangga, pastikan membawa repellent atau lotion anti serangga. kurangnya informasi tentang ini membuatku pulang dengan banyak bentol-bentol di sekujur badan.
***
previous
next:
NewerStories OlderStories Home