apa yang kau bayangkan ketika melihat bunga-bunga ini di kamarmu?
travel date: 20-24 maret 2014

     "dek, kamu nginep sama siapa di situ?" pertanyaan yang langsung diajukan mba' astri -kakak rista yang bekerja di bidang perhotelan- begitu rista mengirimkan foto kamar kami
     "sama rhe mba'"
     "beneran? bukan sama cowo'? karena sepertinya itu kamar honeymoon deh dek"

dan kami langsung ngakak bersama. iya, kamar yang kami pesan memang tampak seperti kamar untuk bulan madu. rista bahkan harus mengirim foto lanjutan kamar twin ini -bukan double bed- dengan aku di tempat tidur untuk semakin menyakinkan mba' astri. mengapa harus dibuktikan bahwa kamar ini twin? karena 1 ranjang saja cukup luas untuk ditiduri berdua. inilah penginapan termewah kami selama perjalanan ke luar negeri. dibandingkan guest house di thailand dan malaysia, guest house ini lebih terasa seperti hotel.

walaupun dilabel dengan guest househanoi guesthouse memberikan fasilitas dan pelayanan melebihi yang kami bayangkan. tidak menyangka bahwa apa yang mereka iklankan pada situs mereka sungguh serupa dengan kenyataan yang ada. mengingat tidak semua situs memberikan informasi sesuai kenyataan, biasanya dengan polesan yang sering mengecewakan pelanggan.
sesaji, lobby dan welcome drink penyelamat kami
begitu datang ke guest house yang berada di 85 ma may street, hoan kiem dist, hanoi ini, miss kim yang bertugas saat itu langsung memeriksa pesanan kami. ternyata kami datang sedikit lebih awal dari waktu check in sehingga kamar masih dalam persiapan. tapi sembari menunggu kami dipersilahkan menikmati welcome drink yang tersedia di lobby berupa orange dan lemon juice. pisang yang tersaji pun bebas diambil berapapun. mengingat cuaca hanoi yang panas siang itu dan perjalanan panjang yang kami tempuh dari nobai airport ke hanoi guesthouse, sajian ini terasa istimewa, segar.  

sebaiknya lakukan reservasi karena hanoi guesthouse memiliki reputasi cukup baik di kalangan traveler. sebelum kami, sepasang traveler dari malaysia sudah menunggu karena tidak melakukan reservasi sebelumnya sehingga masih menunggu kepastian dari petugas. selain mereka, ada juga pasangan bule yang baru datang dan langsung pergi begitu mengetahui tidak terdapat kamar kosong lagi.
twin room yang penuh bunga
begitu kamar kami siap, kami langsung diantar menuju lantai 3 menggunakan lift. tidak seperti loan vu di ho chi minh yang masih menggunakan tangga, di sini terdapat fasilitas lift ke semua lantai. kamar kami berada tepat di sebelah kanan lift dan -katanya- merupakan kamar terluas di lantai itu. ntah apakah informasi ini benar atau tidak, tapi yang aku tahu adalah kami melongo mengetahui kondisi kamar seluas 25 m2 ini. 

pertama, kamar ini memang benar-benar luas. aku dan rista tidak harus membagi zona kamar karena kami bebas menyebar barang kami dimana pun dan ruangan masih tetap terasa lega. kedua, karena dekorasi kamar ini, hiasan kelopak bunga yang ditata cantik di atas ranjang. bunga di sini tidak hanya dipasang di ranjang tetapi di setiap meja yang ada di dalam kamar. kami sempat berpikir bahwa bunga-bunga ini adalah sisa sesaji -mengingat setiap tempat di vietnam selalu mempunyai meja doa seperti yang ada di lobby- yang sudah tidak digunakan lagi. tetapi dari mana pun asalnya, hiasan ini indah dan membuat kami mengaguminya selama 30 menit, tidak berani merebahkan diri walau lelah sudah menggelayuti badan yang belum tidur properly. ketiga, dengan harga kamar 24 usd -termasuk sarapan-, banyak fasilitas yang disediakan kamar ini mulai dari ac dan fan, tv cable, minibar, safe deposit box, free wifi dan complimentary berupa air mineral, teh, kopi dan -yang paling menggembirakan- 2 macam snack :)
tampilan kamar private bathroom
beranjak ke kamar mandi, kami mendapatkan private bathroom dan tidak harus berbagi dengan penghuni lain. tidak hanya shower air panas yang disediakan tetapi juga bathtub dengan amenities lengkap. dan yang paling membuat rista puas dan tidak khawatir untuk memulai harinya yaitu hairdryer! dan lagi-lagi, semua ini ditata dengan cantik. puas dengan kondisi kamar, kami mulai berbenah dan memastikan tour untuk esok hari.

tidak hanya menyediakan layanan kamar, hanoi guesthouse juga menyediakan paket wisata hanoi yang bisa dipesan di travel desk. kami memesan tour ke hoa lu-tam coc dan halong bay melalui penginapan ini masing-masing dengan 3 jenis paket yang ditawarkan: standard, superior dan deluxe
menu sarapan
selanjutnya, sebelum memulai hari, kami selalu menggunakan fasilitas free breakfast yang disediakan. menu utama seperti pho, banh mi, sticky rice atau makanan berat lainnya dapat dipesan ke dapurnya. sedangkan teh/kopi, buah dan complimentary breakfast dapat kau ambil sendiri. restaurant di sini memang tidak luas, tetapi cukup menampung penghuni yang butuh sarapan. kau dipastikan mendapatkan bangku, tetapi sebaiknya turun lebih pagi untuk mendapatkan pilihan complimentary breakfast yang masih cukup lengkap. bagaimana, tertarik menginap?
-***-
related posts: 
previous: 
- next:
mbaru niang di wae rebo
ada yang tidak tahu di mana wae rebo? kemungkinan banyak dari kalian tahu tempatnya. desa yang hanya terdiri dari 7 bangunan rumah yang disebut mbaru niang ini sekarang menjadi destinasi wisata nge-hits. atau mungkin kau justru sudah pernah ke sana? kalau aku sih belum.
racun dari mba' endah
makanya, kalau kau ada cerita, bagi ke aku dong. salah satunya racun yang dikirim mba' endah dari desa yang mendapatkan award of excellence dari unesco ini. close up mbaru niang dengan para pengunjungnya. besar bukan bangunannya? makanya tidak heran ketika ada yang bilang 1 rumah ini bisa dihuni 5 keluarga. 

someday aku pasti bisa ke sana mba'. pasti! -***-
ho chi mihn di hanoi
travel date: 18-24 maret 2015 (7 days)

aku memang bukan perempuan romantis, tapi aku punya travel dreams semasa kecil untuk mengunjungi negeri yang identik dengan bunga.

negeri sakura: done
negeri tulip: masih dalam impian -semoga segera menjadi kenyataan-
negeri lotus: right now :D

day 1 (out of saigon)
- arrival at ho chi minh
- cu chi tunnel
- santap malam dengan gaya lokal
- stay at ho chi minh

day 2 (ho chi minh)
- war remnants museum
- saigon notre dame-post office
- ben thanh market
- jump to hanoi

day 3 (hanoi)
- arrival at hanoi
- ho chi minh mausoleum
- ho chi minh museum
- one pilar pagoda 
- temple of literature
- long bien brige
- old quarter
- stay at hanoi guest house

day 4 (hoa lu)
- hoa lu
- tam coc
- night market

day 5 (hanoi)
- west lake
- cua tran quoc
- hanoi botanical garden
- hanoi flag tower
- maison centrale
- hoa liem lake
- puppet show
- night market

day 6 (halong)
- halong bay
- halong cave
- night market

 day 7 (back to jakarta)
- transit at singapore
- back to jakarta
you can't have a better tomorrow if you don't stop thinking about yesterday

selat melaka
travel date: 19 januari 2014

"no matter what they call us
 however they attack
 no matter where they take us
 we'll find out own way back"

#no matter what-boyzone

aku tidak peduli apa anggapan orang saat mengetahui bahwa aku sungguh-sungguh ingin melihat ujung sungai melaka yang bermuara ke selat melaka. aku selalu membacanya dalam buku geografi maupun sejarah semasa sekolah. sekarang aku diberi kesempatan datang ke kota ini, apa salahnya jika aku mencari ujung sungainya?

hari masih pagi saat kami merencanakan berburu sunrise di pantai selat melaka. keinginan yang hanya menjadi mimpi di pagi malas kami. memutuskan keluar penginapan lewat dari waktu matahari terbit tetapi masih cukup pagi untuk memulai hari. tidak membuutuhkan waktu lama untuk berjalan dari penginapan ke ujung sungai melaka ini.
track di sepanjang sungai melaka
waktu perjalanan yang singkat bukan hanya karena jarak tetapi juga karena track di tepi sungai yang sudah disediakan dan dirancang sebagai jogging track. rata, mulus dan tidak banyak halangan bearti kecuali tanaman tua yang memang tidak dapat disingkirkan dari track. track ini disediakan sampai ke ujung sungai sebelum bertemu dengan selat melaka. berjalan kaki dengan rute penginapan-selat mekala-ferris wheel-penginapan cukup membuat kami berolahraga di pagi hari sebelum memulai aktivitas kami hari ini.

awal dan akhir mekala jogging track
di kanan kiri sungai juga dapat ditemukan pemandangan dari atraksi yang ada di sekitaran mulai dari bagian belakang maritime museum, tempat pejualan tiket melaka river cruise, speed boat serta hotel yang berada di pinggirannya. selain itu juga tersedia bangku sebagai tempat beristiraha atau sekedar menikmati suasana sungai. hanya sajadi pagi hari bukan manusia yang tampak menghabiskan waktu di sana melainkan segerombolan burung gagak. gagak sepertinya menjadi penghuni kedua setelah warga melaka sendiri. berhati-hatilah dengan langkahmu jika tidak ingin memperoleh pemberian yang tidak kau inginkan dari gagak yang terusik dengan kehadiranmu.

di pagi yang tidak begitu cerah itu, aku mengira lokasi selat melaka jauh dari penginapan kami. hal ini disebabkan karena sampai dengan pejualan tiket melaka river aku belum juga mencium aroma laut seperti aroma yang biasa kita hirup saat sudah mulai mendekati daerah pantai. mungkin karena pagi yang tidak terlalu cerah dan angin yang tidak terlalu kuat untuk menghembuskan aromanya. 
muara sungai dan selat melaka
namun ternyata impian bermain air dan berkecipak-kecipuk di pantainya yang basah memang harus kami tangguhkan karena pantai di sini tidak sesuai dengan bayangan kami. bukan pantai yang landai tapi sebuah akhir daratan yang ditandai dengan lampu pantai dan batu-batu pemecah ombak di bagian bawahnya. padahal di sini airnya relatif tenang dan tidak berombak. impian yang lagi-lagi kandas, tidak hanya sunrise yang gagal karena memang kemalasan kami tetapi juga gagal bermain air di pantai.

ok, ini adalah bentuk pantai lain yang belum pernah kutemi dan sangat diluar bayangan. bukan lokasi luas termpat belarian dan mengejar ombak. hanya berakhir saja. sebuah tanda, sebuah perbatasan. tidak banyak yang bisa dilihat atau dinikmati di sini. tidak ada aroma amis air laut maupun pemandangan pantai. sekali lagi, tidak ada pantai.
-***-
related posts: 
previous: roof top guest house 
- next: batu cave 
roof top guest house
travel date: 18 january 2014

aku tidak pernah menyangka langkah kaki kami mengarah ke sebuah kebetulan yang berakhir nyaman. setelah hampir seharian berkeliling melaka, lelah, lapar membuat keinginan merebahkan diri -mengingat kami terserang flu sebelum berangkat- mendadak sangat kuat. tanpa memesan penginapan atau browsing sebelumnya, kami asal mencari penginapan dan mendadak tertarik dengan penampilan dan papan nama yang mencolok dari roof top guest house.

bingung bagaimana cara masuknya karena pintu penginapan ini menggunakan kunci otomatis sedangkan kami adalah pengunjung awal -jelas ga punya kunci-. untung hari belum larut sehingga masih ada penjaga penginapan. penginapan ini dijaga oleh mani yang walaupun tampak tegas tapi memberikan sambutan hangat. untuk masuk ke dalam alas kaki harus dilepas dan diletakkan di tempat yang disediakan. setelah duduk, kami langsung diberi segelas minuman dingin mengingat melaka hari itu sangat panas. homey bukan.

kami menyampaikan maksud kami untuk menginap malam itu. namun kata mani hanya tersisa 1 kamar di lantai 1, itu pun di bawah tangga. mani meminta kami melihat kamar lebih dulu sebelum memutuskan untuk menginap karena dia tidak berani menjamin bahwa kami akan suka dengan kamarnya. dia juga menunjukan fasilitas lain seperti tempat menjemur pakaian di lantai 2 dan roof top yang biasa digunakan untuk berkumpul sesama penghuni. kamar mandi bersama dengan air panas ada 2  di lantai 2 dan 1 di bawah.
fasilitas bersama roof top guest house
setelah melihat kamar seharga 58 RM ini ternyata kami suka -berbeda dengan perkiraan mani- dan langsung memutuskan untuk menginap, padahal biasanya aku tidak mau menginap di luar negeri jika kamar mandi berada di luar. bukan karena sok berkelas tapi karena berpikir dengan penggunaan kamar mandi bersama kau bisa terjangkit penyakit dari berbagai negara -iya, aku memang paranoid-. yang membuatku akhirnya mau menginap, selain karena lelah, adalah tergiur kamar luas dengan double bed yang sempat kulihat dengan harganya yang sangat terjangkau. setelah membuat reservasi dan melakukan pembayaran, mani memberikan penjelasan lebih lanjut. 

di sini tidak berlaku jam malam tapi diharap untuk tenang di malam hari karena penghuni lain juga ingin beristirahat. jika kau merokok, tidak diijinkan merokok di dalam ruangan, hanya di balkon atau roof top. diharap memastikan meninggalkan kamar mandi dalam keadaan bersih setelah digunakan karena petugas kebersihan hanya datang sekali sehari. penginapan tidak menyediakan sarapan tapi semua makanan yang ada di meja makan boleh dimakan. mani menjelaskan ini dengan sangat ramah, dia bahkan membantu kami untuk mencari tempat makan yang sesuai dengan selera kami serta mengarahkan kami ke sate celup dan memberi tahu arah untuk semua lokasi yang kami ingin tuju selanjutnya. setelah ngobrol lebih lanjut, mani ternyata isteri raymondyang bersama-sama menjadi pemilik dan pengelola roof top guest house. pantas saja jika tempat ini menjadi incaran backpacker, bukan saja karena kebersihan pengipannya tapi juga keramahan pemiliknya yang membuat nyaman siapa pun yang tinggal di dalamnya.
fasilitas kamar roof top guest house
kami diberi kunci setelah pengarahan singkat ini. saatnya mengeksplorasi lebih lanjut. private room kami cukup luas -di sini juga ada dorm-, lemari besar, tv, meja rias, meja-kursi dan yang membuat sedikit tercengang adalah tidak hanya AC tapi juga kipas angin yang disediakan di sini. dapur berada tepat di sebelah kamar kami, cukup luas untuk melakukan aktivitas bersamaan oleh penghuni. teh, kopi dan minuman lain yang disediakan bebas dinikmati asal membersihkan kembali gelas yang dipakai. jika menyimpan makanan di dalam kulkas, harus diberi nama dan tanggal. makanan yang terlalu lama disimpan akan buang supaya tidak membuat penuh dan kotor. sedangkan buku yang ada di ruang tamu bebas dibaca atau di-swap dengan buku yang kau bawa. 

paling menyenangkan adalah saat pagi datang, penginapan ini memang tidak menyediakan breakfast, tapi meja makan besar yang ada di sana tidak pernah kosong oleh makanan. saat pagi hari, mani akan meletakkan kue buatannya atau jajanan lain yang bebas dinikmati penghuni. hanya saja jam mengantar kue ini tidak pasti. jika kau sudah sangat lapr sebelum kue datang, nikmatilah buah pasti ada. 

andai aku punya banyak waktu, ingin rasanya bermalas-malas di sini. dan yang terpenting, kami berhasil memulihkan diri selama bermalam di sini untuk aktivitas kami 2 hari selanjutnya. thanks a lot mani for your warm greetings. i really want to stay in here next time :)
-***-
related posts: 
previous: 
- next: melaka river
nectar hunting at tegal alun
"if you wanna be my lover, you gotta get with my friends
 make it last forever friendship never ends
 if you wanna be my lover, you have got to give
 taking is too easy, but that's the way it is"

#wanna be-spice girls

jika kau ingin merasakan pertemanan sesungguhnya cobalah mendaki gunung. dan jika kau ingin mendaki gunung sambil bersenang-senang, cobalah ke papandayan. gunung ini sering digunakan untuk camping ceria pendaki pemula atau orang-orang yang ingin punya pengalaman mendaki tapi belum siap untuk berhadapan dengan gunung sebenarnya. bukan bearti papandayan bukan gunung sebenarnya ya, tapi sering orang mempersepsikan mendaki papandayan itu ya nge-camp di pondok saladah, paling jauh sampai tegal alun. salah, seperti gunung lainnya, papandayan juga punya puncaknya. dimana dia?

how to get there:
- naik angkutan umum apapun dari lokasi asal ke terminal guntur di garut
- dari terminal guntur naik elf (20 ribu/orang) sampai pertigaan indomart. 
- ganti dengan pick up (20 ribu/orang) sampai pos pendaftaran. 
- untuk masuk ke wilayah papandayan dikenakan retribusi 15 ribu/orang yang tidak ditanggung oleh supir pick up dan simaksi 3ribu/orang
keramaian papandayan sebelum pendakian
suasana papandayan sekarang tidak seperti 3 tahun lalu. pos pendaftaran yang saat itu menjadi satu dengan gerbang retribusi sudah berpindah tempat. biaya yang dikenakan ke pendaki pun double, biaya retribusi dan simaksi. pelataran yang dulu sepi pun sekarang penuh dengan kendaraan baik motor, mobil bahkan bus pariwisata. kedai dan penjual cindera mata pun mulai ramai menjamur di kawasan wisata ini. papandayan sudah berubah menjadi kawasan wisata.

pelataran saja sudah berubah drastis, bagaimana dengan camping ground dan puncaknya nanti?

jalur pendakian papandayan mengalami banyak perubahan setelah terjadi longsor 2013. jalur awal di kanan yang memotong sungai semakin susah dilewati karena tertutup longsoran. jalur baru yang digunakan di sebelah kiri, lebih curam dan langsung menuju hutan mati. jalur ini terdiri dari pasir licin walau lebih pendek dibanding jalur semula.
antrian pendaki papandayan
semula kami memilih jalur ke arah air terjun, lebih terjal dan tidak jelas, karena jalur utama sangat ramai. menjauhi antrian pendaki yang tampak seperti semut-semut yang berbaris rapi. jalur pilihan kami ini tidak jelas, hanya terdiri dari batu-batu berbalut belerang yang runcing dan berserakan. belum lagi aroma sulfur yang kuat menusuk hidung. sungguh bukan pilihan menarik kecuali karena sedikitnya pengunjung yang melalui jalur ini. 

tapi jangan tertipu dengan penampilan jalur yang sepi karena ternyata jalur ini tidak terhubung dengan hutan mati. kami harus turun dan berputar kembali ke jalur pendakian normal dan mengantri bersama pendaki lain yang tidak semuanya dalam kondisi yang cukup prima. tertarik dengan pasangan kakek-nenek yang saling membantu dan mendukung satu sama lain untuk tetap melanjutkan pendakian. melihat tangan yang mulai layu sang kakek menopang tangan rapuh si nenek supaya bisa sampai di atas bersama. mampukah mereka tetap bersama sampai pondok saladah?
jalur sepi yang tidak memberi janji
kembali ke hutan yang semati namanya, di sini hanya terdapat ranting-ranting hitam dan tanah kering yang meninggalkan pasir di hidung saat kau bernafas dan debu di mulut saat kau bicara atau mengunyah makanan. tidak menyenangkan untuk berdiam diri lama, hanya saja pemadangan yang disajikan memang tidak bisa dilewatkan. apalagi selepas fajar dan menjelang senja.

kami lebih memilih langsung melanjutkan ke pondok saladah sebelum semakin penuh pengunjung. saat kami sampai, camping ground ini sudah mulai penuh berdiri tenda-tenda kosong. datang awal bukan jaminan mendapatkan lokasi nenda yang memadai. karena fungsinya yang mulai berubah menjadi tempat wisata, pondok saladah sudah mulai diisi penyelenggara open trip yang mendidikan tenda sebelum peserta datang. semacam pondokan dengan nuansa alam, ga perlu susah menbawa dan mendirikan tenda, apalagi memasak dan membawa bahan makanan.
hutan mati papandayan
beberapa pelancong ini sepertinya belum cukup siap berhadapan dengan alam. saat sore menjelang, duduk dan berbincang di depan tenda saat camping ceria merupakan hal wajar sampai tiba-tiba pemandangan mengejutkan muncul di depan kami. antara tidak percaya sambil mengusap-usap mata. seorang guru pendamping sekolah menengah membawa ranting di setiap tangannya melintasi camping ground

apakah benar itu bapak guru? melihat atribut nama sekolah yang ada di celananya, kemungkinan itu benar guru. apakah benar itu ranting? apakah dia akan menggunakannya sebagai kayu bakar? atau dia mengambilnya sebagai pembuktian? sayang aku tidak sempat mengabadikan lewat kamera karena terlalu bengong menatapnya. dua ranting itu adalah pohon edelweiss. terbayangkan bagaimana gondoknya kami yang melihat langsung salah satu perusakan alam ini. salah kami juga karena tidak berani menegur bapak guru ini secara langsung, hanya meneriakan sindiran yang tampaknya juga tidak dia perhatikan. janganlah orang seperti ini dipercaya sebagai guru yang dicontoh murid-muridnya.
pondok saladah: kontrasnya pemandangan ke atas dan ke bawah
malam menjelang dan langit dipenuhi bintang. tidak ada yang dapat kukatakan selain mengagumi keindahan langit malam itu, cerah dan bertabur bintang. hanya mampu mengabadikannya dengan mata yang tidak memiliki keterbatasan dibanding kamera digital apalagi smartphone. privilege untuk mereka yang melihat langsung pemandangan ini walau hawa dingin yang membuatmu rindu kasur. sebenarnya suhu di sini tidak sedingin cikuray. aku sempat berkeliaran dini hari dari lokasi tenda ke mata air hanya bercelana pendek dan kaos trus ditegur oleh bapak penjaga mushola. okay, sepertinya walau udara tidak terlalu dingin tapi penutup tubuh yang layak tetap diperlukan.

fajar menjelang dan kami berempat -team kali ini rhe, acep, jun, igus- tidak ada yang berniat berburu sunrise. mungkin lelah malam sebelumnya karena tidak tidur semalaman membuat kami ingin membayar waktu istirahat kami yang terhutang. menjelang terang barulah kami mulai keluar tenda untuk mengejar puncak. dan ternyata, pencarian puncak ini tidak semudah 3 tahun lalu karena jalur yang berubah. mencoba jalur mata air yang sekarang sudah menyerupai hutan lebat. sepertinya jalur ini sangat jarang dilalui pendaki untuk sampai ke tegal panjang. saat ini jalur dari hutan mati lebih common digunakan
pondok saladah vs hutan mati
jalur mulai terlihat setelah melewati padang edelweiss sebelum tegal alun. dari sini kita bisa melihat ke bawah, ke pondok saladah. ternyata camping ground ini lebih ramai dari yang kuperkirakan, sesak dan penuh tenda dilihat dari atas. sementara melihat hutan mati, kau akan menemukan bahwa tempat itu sudah tidak layak mendapat julukan hutan lagi. pohon kering mulai gundul, ditebang sebagai kayu bakar -ini bukan tuduhan tapi lagi-lagi kami menyaksikannya sendiri- serta tanah yang semakin kering dan tandus tanpa usaha penghijauan. miris memang melihat pemandangan ini.
sambutan dari tegal alun
tapi jangan bosan dulu karena pemandangan yang memanjakan mata menantimu tak jauh dari sana. tegal alun. inilah salah satu daya tarik gunung papandayan yang bisa dibanggakan. padang edelweiss yang menyajikan hamparan bungan keabadian. dijamin tidak akan bosan jika kau berlama-lama di sini. sebenarnya lokasi ini cukup luas dan banyak tanah lapang untuk nenda. tapi katanya tidak disarankan untuk nenda di sini karena masih sering dikunjungi binatang buas.
masih belum bosan dengan edelweiss
andai tidak mengejar puncak, ingin rasanya bermalas-malasan lama di sini. menikmati pemandangan langit bersemburat awan yang berpadu cantik dengan bunga edelweiss. seakan mengajak kita untuk berdiam diri sejenak sambil memanggil "lupakan bebanmu, melangkahlah ringan sepertiku, nikmatilah aku" -halusinasi-. namun karena belum kesampaian ke puncak 3 tahun lalu ini masih membayang, maka kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

ternyata di antara kami tidak ada yang expert untuk menemukan jalur ke puncak. dari kami berempat, hanya igus yang baru kali pertama ke papandayan. tapi tetap saja, sebanyak apapun, jangan pernah ngaku sebagai penakluk alam karena mereka selalu punya cara sendiri untuk mengejutkan kita. dan kejutan kali ini adalah jalan ke puncak yang tidak berhasil kami temukan
kami yang masih penasaran dengan puncak papandayan
sebanyak apapun kami menebak jalur yang ada justru menjauh dari puncak papandayan. mencoba mengingat patokan yang diceritakan awi -salah satu teman kami yang ke puncak beberapa minggu sebelumnya-, mencari dan mengikutinya. semua sudah sesuai arahan, tapi yang kami dapat adalah jalan buntu jika bukan jalan ke arah jurang. tapi kami mendengar suara dari arah puncak, dari orang-orang yang sudah berhasil sampai ke sana. jadi sebenarnya puncak itu dapat dijangkau, hanya kami saja yang belum berhasil menemukannya.

melihat waktu yang semakin siang dan perjalanan kembali ke garut yang cukup lama, maka kami memutuskan pencarian kami saat itu. tapi saat bertemu dengan rombongan lain, kami masih penasaran dan bertanya bagaimana cara ke puncak. ternyata rombongan ini juga tidak tahu. tidak banyak yang tahu akses ke puncak papandayan, pikirku. setelah salah mendefinisikan puncak papandayan 3 tahun lalu, kali ini malah gagal menemukan jalan ke puncak papandayan. padahal kami tahu puncak sudah ada di depan kami, hanya saja jurang membentang dari lokasi kami sampai dengan puncak. kalau kau tahu, tolong beritahu padaku -masih penasaran-.
conclusion: belum berhasil kali ini
kembali ke pondok saladah, saatnya berbenah. menghabiskan bekal logistik dan segera turun mengejar bus ke jakarta. jangan lupa periksa kebersihan camping ground yang kau tinggalkan dan bawa turun sampahmu. gunung bukan tempat sampah. kami memang bukan penggiat lingkungan, tapi kami sedikit mencoba menjaga alam dengan membawa turun sampah kami dan sampah lain yang kami temukan di jalan. 
kalau cuman nyampah jangan naik gunung
ide jun untuk memasang "tulisan" pada punggung trash bag menarik perhatian pendaki yang sempat berpapasan dengan kami -dengan igus lebih tepatnya-. ada beberapa orang yang kulihat berusaha mengimbangi kecepatan langkah kami supaya bisa memotret tulisan ini. tapi malang bagi igus karena rasa intimidasi dari orang yang membacanya sampai harus menutup rapat wajahnya >.<.

PS for the peak:  next time kita harus ke sini lagi, bawa awi, supaya dapat sampai puncaknya. full team ya. -***-
NewerStories OlderStories Home