passeren brug
"ada yang belum pernah ke pasar baru?"

retorik memang. tapi itulah pertanyaan pertama yang dilontarkan mas canda pemandu kami dari @JKTGoodGuide. sebuah sentilan yang menjadi pembuka perjalanan kami menjelajahi sisa masa lalu. seakan bunyi click pada lubang kunci di pintu waktu, memindahkan jakarta sebentar ke masa pemerintahan belanda, saat masih disebut batavia.

sejarah bagi beberapa orang memang menjadi momok dalam pelajaran sekolah. aku salah satunya, yang tidak pernah memiliki nilai aman untuk mata pelajaran ini. tapi mengintip sejarah yang dikemas dalam sebuah perjalanan, itu soal lain. mungkin karena mayoritas orang adalah makhluk visual yang lebih mudah memahami sesuatu dengan melihat langsung.

dimulai dari stasiun juanda yang semula berada di rijken weg -kawasan pemukiman orang kaya- menuju ke welrevreden -kawasan pemukiman di luar batavia-. bangunan pertama yang kami kunjungi di seberang kanal pasar baru adalah sekolah santa ursula yang dikhususkan untuk pelajar perempuan. merupakan yayasan katolik yang diinisiasi oleh biarawati dari belanda sampai akhirnya mengkhususkan diri pada pendidikan dan menjadi sekolah puteri.
atap lengkung gedung filateli, ciri khas bangunan belanda
di sebelah santa ursula terdapat kantor pos lama yang saat ini digunakan sebagai gedung filateli jakarta. walaupun bewarna oranye yang merupakan warna khas kantor pos indonesia, gedung ini tidak kehilangan arsitektur gaya belandanya: berlantai dan beratap tinggi. lantai yang dilapisi pasir setinggi 1,5 m ini bertujuan untuk mengantisipasi air yang masuk ke gedung jika terjadi banjir. sedangkan atap yang tinggi bertujuan untuk memberikan sirkulasi udara yang baik mengingat cuaca batavia yang panas. ternyata dari jaman belanda sampai sekarang jakarta belum juga berubah ya, tetap panas!
mas canda dari JGG yang tetap semangat di tengah panasnya jakarta
selain stuktur bangunan, desain kaca patri yang bergaya art deco juga menjadi salah satu ciri khas bangunan belanda. ciri khas ini tidak muncul di gedung kesenian jakarta yang berada di kawasan yang sama. gedung ini sudah beberapa kali mengalami perombakan dan menjadi saksi banyak peristiwa sejarah. semula digunakan sebagai gedung dansa sebelum dirombak menjadi gedung komedi sampai akhirnya digunakan sebagai gedung teater dengan gaya bangunan neo yunani.  
schouwburg weltevreden
melintas ke arah pasar baru tampaklah salah satu gedung sejarah yang mempunyai peran penting untuk indonesia, gedung berita antara. kantor berita inilah yang menjadi sarana adam malik mengudarakan kemerdekaan indonesia kepada dunia. untuk mengenang sejarah ini, kantor berita antara dijadikan cagar budaya yang di dalamnya menyimpan beberapa koleksi sejarah baik tentang proklamasi maupun jurnalistik.
gedung antara
diorama proklamasi
mesin tulis kuno
remember!
sejarah itu penting dan tak akan bisa hilang. sebuah tulisan di dinding yang membuatku ingin terus mengikuti perjalanan menembus lorong waktu ini. berkunjung ke rumah mayor yang sayangnya tidak sama dengan kantor berita antara yang dilindungi sebagai cagar budaya. rumah orang tionghoa dengan kedudukan tertinggi pada masanya ini tampak tidak terurus dan mulai dimakan waktu serta perkembangan daerah sekitar. 

pekembangan ini bisa dilihat dari banyaknya bangunan baru di sepanjang area pasar baru salah satunya toko sepatu sin lie seng. meskipun terlihat baru tapi toko sepatu ini merupakan salah satu toko yang bertahan dengan menggunakan nama aslinya walaupun penggunaan nama tionghoa dilarang selama masa orde baru dan baru mulai kembali dibebaskan pada masa pemerintahan gus dur, salut.
yang masih bertahan dengan nama aslinya
menyusuri pasar baru belum sah kalau belum sampai ke gang-gang kecilnya. berusaha menyeimbangi konsep yin yang, pasti akan ada klenteng di sekitaran pasar yang mayoritas dihuni oleh kaum tioanghoa. walaupun pada dasarnya kawasan ini adalah kawasan india, tapi gelojak perekomonian juga mengundang etnis tionghoa untuk menjalankan roda perdagangan. peninggalan budaya tioanghoa ini adalah adanya kuil hok tek bio yang memuja dewa pedagang dan kuil sio tek bio yang memuja dewi kwan im.
kuil hok tek bio
candles
kuil kwan im
dewakah?
menyusuri jalan-jalan sempit ini sampailah kami ke gang kelinci dengan wangi menguar dari warung bakminya. sayang mas canda tidak menjadwalkan kunjungan ke sini. padahal perut sudah keroncongan minta diisi sebelum ke salah satu destinasi religi yang lain, gereja pniel. gereja ini merupakan gereja protestan yang lebih dikenal dengan gereja ayam. simbol ayam bisa dilihat di bagian atas gereja yang berasal dari cerita injil tentang petrus yang menyangkal sebagai pengikut yesus sebayak 3 kali sebelum ayam berkokok menadakan munculnya matahari.
gereja pniel
gereja ayam
dan dikunjungan terakhir ini, seakan memperdengarkan kokok ayam dari bagian telinga yang lain. tampaknya kami diingatkan untuk kembali ke realita. bahwa ini adalah jakarta menjelang malam, bukan lagi batavia di jaman pemerintahan belanda. siap dengan kemacetan dan perut yang lapar. sebuah akhir yang kenyang dengan pengalaman tapi keroncongan pada kenyataan. 

siapkan space untuk perutmu karena selanjutnya adalah perjalanan untuk memuaskan perut :) -***-
spot andalan
website: http://www.dusunbambu.com/

"don't you dare go runnin' down my little town where i grew up
  and i won't cuss your city lights
  if you ain't ever took a ride around
  and cruised right through the heart of my town

  anything you say would be a lie"

#where i come from-montgomery gentry

ibukota merupakan tempat yang selalu menuntut kemampuan survival sampai saat na datang kesempatan untuk sejenak melarikan diri menghindari hiruk pikuk na jakarta. kali ini ngabur ke bandung yang akses na gampang. tapi apa daya, ternyata banyak orang berpikiran sama dan yang ada adalah padat na ibu kota dipindahkan ke sebuah dusun di utara bandng, dusun bambu.
entrance
how to get there:
- naik primajasa (75rb) dari pool cililitan-bandung turun di terminal leuwi panjang
- naik angkot kuning leuwi panjang-kalapa (4rb), ada di dalam terminal setelah perhentian bus primajasa
- naik angkot ijo kalapa-ledeng (5rb) turun di seberang sebelum angkot masuk ke terminal
- dari seberang terminal ledeng naik l300 turun di cmc, lanjut jalan kaki sekitar 500 meter sampai ke lokasi

ribet memang kalo pake angkutan umum. di sinilah koneksi memainkan peran. 6 tahun ga ketemu dengan salah satu penghuni bandung ini ternyata ga mengubah apapun, pangeran -uhuk- bermotor yang sangat mempermudah one day trip kali ini -thanks a lot cus, untung nomor kau ga ganti- :). jadilah skip rute angkot, cukup mpe meeting point di cicaheum, selebih na ditemein cus pake motor -tetep ke arah ledeng dulu-. pertigaan setelah terminal belok kiri ke arah kampung daun. ikuti jalan sampai ada pertigaan lagi setelah curug, belok ke kanan ke jalanan nanjak. jalan masuk dusun bambu ada di sebelah kanan sekitar 1 km dari pertigaan terakhir.
must read
untuk masuk ke lokasi seluas 15 hektar yang berada di kaki gunung burangrang ini pengunjung dikenakan tarif 30 ribu dan ongkos parkir yang langsung dibayar di depan. tiket masuk ini bisa ditukar dengan sebotol air mineral. better manfaatkan fasilitas na karena di dalam nanti dilarang membawa dan mengkonsumsi makanan dan minuman dari luar. bagi yang melanggar dikenakan denda 250 ribu.
bamboo path
nama dusun bambu seperti na diambil dari bentuk ekowisata yang berupa konservasi bambu ini. belajar dari kesuksesan kampung daun, pengelola dusun bambu juga mengangkat konsep yang mengedepankan keindahan alam hijau. selain itu konsep dari ekowisata ini juga terdiri dari edukasi, ekonomi, etnologi, etika dan estetika yang mengusung kekayaan budaya tradisional. budaya tradisi dapat dilihat dari penamaan fasilitas yang ada seperti burangrang cafe, purbasari restaurant, lutung kasarung, kampung layung, sayang heulang, pasar khatulistiwa, balad lodaya dan tegal pangulian.

incaran pertama adalah lutung kasarung yang merupakan tempat makan yang berada di atas pohon dan berbentuk semacam sarang. jalur yang menghubungkan sarang yang satu dengan yang lain menjadi pemandangan tersendiri. sayang na kami datang di musim liburan yang membuat jalur ini padat pengunjung -senggol sana senggol sini-, susah lewat na. ga sempet menikmati makan di dalam na karena semua sarang sudah terisi. ntah seperti apa sajian masakan di sini. apakah memang menjual rasa atau hanya menjual pesona tempat na saja.
lutung kasarung
lanjut di sebelah lutung kasarung terdapat pasar khatulistiwa yang menjual berbagai hasil bumi, camilan dan souvenir dusun bambu. untuk belanja di dalam na pengunjung perlu menukarkan uang dengan koin yang bisa digunakan untuk belanja di dalam na. pasar ini dihubungkan ke cafe burangrang dengan semacam kanopi. di bawah kanopi disajikan pertunjukan kesenian sunda. jika malam menjelang ditengah na dinyalakan api unggun yang sekaligus menjadi titik kumpul pengunjung. cafe burangrang terlihat mahal buat budget one day trip kali ini dan kami pun memilih menghabiskan waktu di semacam kolam yang ada di sana.
senang-senang pun butuh ngantri
kolam ini juga menjadi salah satu atraksi wisata, bisa canoeing atau main bola air. apakah rhe mencoba kedua aktivitas itu? tentu tidak. kali ini bukan karena mahal na tapi karena antrian na. ntah orang segitu penasaran na dengan kolam ini atau aktivitas canoeing yang tampak seperti na menyenangkan? pasti na keramaian ini berhasil menarik pengunjung lain sampai akhir na terbentuk antrian. jika dilihat sekilas tampak na penumpang kano tidak dilengkapi dengan safety yang memadai, tidak ada life jacket atau perlengkapan pengaman lain. mengingat padat na pengunjung pengelola perlu memperhatikan keselamatan mereka.
owner refugees
baru sempat berpikir seperti itu tiba-tiba dari arah panggung di sebelah kolam yang memang menjadi spot utama mengabadikan moment kunjungan di dusun bambu terdengar teriakan kemudian trus ngakak. ternyata ada salah satu pengunjung cowo' -yang ntah gimana heboh pose na- kecemplung ke kolam. pas liat dia bisa berdiri akhir na ketauan juga ternyata tu kolam dangkal. kedalaman na sekitar 1 meter. okay, aman main di samping kolam.

paddy
sebenar na di samping cafe burangrang dan di atas lutung kasarung terdapat camping ground. jelas ngecamp di sini walau fasilitas na semacam hotel berbintang tapi ga akan sama dengan ngecamp di alam bebas di bawah ratusan bintang -padahal alasan na adalah tarif ngecamp yang tidak masuk akal untuk dompet rhe :D-. 

untuk ngecamp: ngga', untuk makan: boleh, untuk belanja: mahal, untuk nongkrong sambil tertawa riang: ok. sayang na cuma satu, kami datang di saat padat pengunjung jadi kurang bisa menikmati lokasi ini dengan maksimal. crowded. 
-***-
related posts: 
- previous: -
kopi ireng
location: jl bukit pakat timur ciburial no 1, bandung
website: http://www.kopiireng.com/ 

rhe terlalu berharap banyak saat datang ke kedai kopi ireng. kedai kopi yang mengatakan 'hadir untuk memuaskan dahaga para 'maniak' kopi yang menjunjung tinggi orisinalitas dan cita rasa ramuan kopi' jelas membuat rhe penasaran untuk mencoba na. incaran kunjungan ke bandung kali ini sebenar na ada 2: selasar sunaryo dan kopi ireng. tapi karena kami terlalu malam naik ke dago pakar maka hanya satu tempat yang bisa didatangi.
joglo kopi
melihat settingan tempat tampak na lokasi ini menarik untuk ajang kumpul atau sekedar duduk-duduk ngobrol sambil menikmati pemandangan malam. ntah jika siang hari apakah akan menghadirkan suasana yang sama -atau justru perabotan na malah tampak usang di cahaya siang-. memang salah satu plus point di sini adalah city light yang bisa dinikmati dari kedai sambil menikmati secangkir kopi di sejuk na udara malam dago pakar.
bintang di bumi
melihat menu yang ada dan varian kopi item na seperti kebanyakan kedai kopi lain akhir na memutuskan untuk mencoba kopi klothok. kesalahan dimulai dari sini, tidak bertanya ke pelayan apa itu kopi klothok. pas datang yang tersaji adalah secangkir kopi hitam beraroma rempah dengan sachet gula sebagai pelengkap na. ternyata rasa na...
kopi klotok
super duper manis -langsung pengen tuangin beer biar ada pahit na dikit-. jelas kecewa karena berpikir akan mendapat kopi hitam yang belum dicampur gula -mengingat ada tambahan 1 sachet gula-. tapi nyata na yang ada adalah kopi yang sudah terlanjur manis. rhe adalah pengemar kopi pahit, jelas kecewa dengan rasa kopi manis ini. berusaha minta tukar ke pelayan untuk mengganti dengan yang ga manis ternyata ga bisa karena yang dimaksud kopi klothok di sini adalah kopi hitam yang dicampur dengan bandrek. sedangkan bandrek na sendiri sudah dibuat manis sehingga mau ga mau rasa kopi klothok ya, manis -my bad-. yang jelas rhe ga ngerasa puas dengan sajian yang ada. sepiring pisang goreng pun ga berhasil mengembalikan penilaian rhe.
bulan di langit
setidak na pemandangan dan kesejukan udara malam sedikit meredam na. bulan yang mengintip tipis di langit malam menghadirkan suasana melankolis seakan berada di teras rumah. ya, bandung memang selalu hommies seperti apapun pengalaman yang ada di kota ini -termasuk ga enak na rasa kopi :D-
-***-
related posts: 
- previous: dendeng batokok
bus transnasional
travel date: 18 january 2014

kedatangan bus transnasional yang akan membawa kami selama 2,5 jam ke melaka seakan menjadi penyelamat kami dari sumpek na suasana LCCT. inilah satu-satu na bus yang bisa menuju melaka langsung dari lcct. fasilitas na cukup baik -dibuktikan kami bisa tidur nyaman di dalam na- tapi kalo mau yang lebih baik lagi bisa ke kl central. di sana banyak pilihan bus dan waktu keberangkatan -cuma harus naik bus dulu dari lcct ke kl central-. malas bolak-balik, kami memilih menggunakan bus transnasional (24 RM).

sedikit drama saat menunggu bus ini. bus yang dijadwalkan berangkat jam 7.30 tak kunjung datang saat kami menunggu di pangkalan. ada yang bilang untuk naik bus harus membeli tiket yang ada di dalam pintu kedatangan penerbangan nternasional -yang kami ga bisa masuk lagi karena sudah keluar-. keliling bandara untuk cari penjual tiket na di jam yang harus na sudah menjadi kedatangan bus. pas balik bus na memang udah ada tapi tak kunjung dibuka. ternyata kami salah mensetting waktu ke waktu setempat. ada 3 penunjuk waktu yang ketiga-tiga na beda, 1 waktu indonesia, 1 waktu malaysia, 1 lagi ternyata udah waktu malaysia tapi ditambah lagi 1 jam. setelah berdebat akhir na kami mempercayai waktu ketiga, jadilah waktu kami kecepetan 1 jam. pantesan bus na lama dateng n lama berangkat. 

anyway, pemandangan ke melaka lumayan bisa dinikmati. sayang na kami lebih memilih tidur karena sebelum na tidak mendapatkan lokasi istirahat yang layak di lcct. btw, tiket na ternyata ga cuma bisa dibeli di pintu kedatangan tapi langsung di dalam bus.
-***-
related posts: 
previous: LCCT
- next: red square
ngemper
travel date: 18 january 2014

low cost carrier terminal (LCCT) adalah bandara di kuala lumpur yang digunakan untuk terminal barang sekaligus terminal untuk penerbangan murah. bisa dibilang juga di sini adalah bandara na air asia. selain karena maskapai ini milik malaysia, counter na hampir menguasai 90% bandara -saat penerbangan balik kami sempat kesulitan menemukan counter check in tiger air-.

antrian imigrasi
berada di lcct bukan suatu pengalaman menyenangkan. pertama, petugas imigrasi yang under estimate terhadap perempuan indonesia, tampang na congkak banget -pengen digebuk- seakan menganggap semua wni adalah tki yang berhak mereka perlakukan semena-mena. kedua keadaan bandara ini, jauh dari bersih. toilet na bau, tempat duduk na -kalo ada- kotor, drinking water na keruh. ketiga, mungkin karena lcct adalah terminal barang maka fasilitas tempat duduk na kurang. jadi ruang kosong yang ada dijadikan tempat lesehan atau rebahan. kebetulan kami sampai dini hari sehingga harus menunggu pagi saat jadwal bus pertama ke malaka.
di sini air mahal
menunggu itu melelahkan. bukan karena menunggu na tapi karena lokasi menunggu na. saat kami sempat memilih untuk menunggu di salah satu gerai franchise ayam internasional saja kondisi na memprihatinkan. nunggu di luar bandara digigitin nyamuk, di dalam bandara penuh pemandangan jorok yang menyiksa mata. antara bingung ini bandara internasional atau lokasi pengungsian? sangat tidak manusiawi.
saat kantuk sudah tak tertahan lagi
mungkin rhe bukan traveler sebenar na, ga siap menghadapi perlakuan dan pemandangan tidak menyenangkan ini. memang ga semua hal sesuai dengan yang kita inginkan. siapkan mental untuk hal-hal demikian. moga perjalanan selanjut na ga seburuk gerbang masuk negara ini.
-***-
related posts: 
penghuni tetap kota melaka
travel date: 18-20 januari 2014 (3 days)

banyak tempat -terutama tempat makan- yang pengen rhe kunjungi di malay. apa daya, waktu ngabur sangat terbatas. maklum, ini bukan cuti tapi rehat sejenak dari kepadatan job akhir taon :D

so, this our itinerary

day 1 (melaka)
- arrival at LCCT
- jump to melaka by bus transnasional
red square
bukit st. paul
benteng a famosa
- wisata berbayar: menara taming sari, museum maritim, river cruise
- bukit cina
- sate celup kuliner khas melaka
- jonker walk
- sleeping beauty at roof top guest house

day 2 (melaka-kuala lumpur)
- melaka river
- jump to kuala lumpur
- batu cave
- petronas
- petaling street

day 3 (kuala lumpur)
- genting
- dataran merdeka
- pasar seni
- back to jakarta
belut goreng dan teman-teman na
location: jl ir h juanda, bandung -sebelah borma-

jangan pernah menolak mencoba rekomendasi orang lokal. inilah jadi na :D

rhe udah makan nasi timbel sebelum ke rumah makan dendeng batotok di jalan dago. tujuan ke sini pun sebenar na bukan untuk makan tapi karena cus janjian ma temen na di sini. sungguh ga ada keinginan makan awal na. tapi cus yang orang minang -dan udah makan nasi timbel juga- tetep memesan dendeng batotok membuat rhe sedikit penasaran. seenak itukah menu di sini sampai membuat orang yang baru makan mo makan berat lagi?

kenyang nasi timbel tetap membuat rhe malas memesan. tapi pas temen cus satu per satu datang -lagi-lagi orang minang- yang muka na langsung berbinar memesan dendeng batotok, rasa na makanan ini memang wajib dicoba. tahan ya perut, pasti masih ada tempat untuk sepiring nasi lagi.

ga terlalu tertarik memesan dendeng karena ukuran na yang mungil, akhir na rhe memesan belut goreng (30 rb). harga na sebanding dengan apa yang di sajikan. sepaket belut goreng disajikan dengan seporsi nasi, sup, sambal dan lalapan. kalo dendeng batotok disiram sambal ijo, belut goreng disiram dengan sambal merah. dan ternyata rasa na enak. sama enak na ma dendeng batotok -nyobain cus punya-. 

ini enak dalam artian sebenar na cz rhe makan bukan dalam keadaan lapar, masih kenyang bahkan, tapi bisa menikmati makanan ini. bearti rasa na emang ga main-main. ga sempet ngefotoin menu dendeng na karena under estimate terhadap makanan ini awal na. agak nyesel juga ga segera sadar tentang rasa masakan di sini. padahal clue na jelas, banyak orang minang -mayoritas sekeluarga- makan di sini. jadi soal rasa pasti mendekati atau bahkan mirip dengan rasa asli dari padang sana. kata na pemilik rumah makan ini mempertahankan rasa sali dari payakumbuh.

apa yang membuat rhe bilang masakan ini istimewa? selain dari penyajian na yang lengkap dengan sup sambal dan lalapan masing-masing punya kelebihan. belut na digoreng dengan minyak kelapa sampai duri na kering sehingga aman dimakan, ga nusuk-nusuk. disiram sambal merah yang juga digoreng dengan minyak kelapa. ditambah lagi sepiring sambal yang lagi-lagi digoreng dengan minyak kelapa plus lalapan yang ga pelit, sepiring komplit terdiri dari labu, selada dan buncis yang digoreng dengan minyak kelapa.

kunci na seperti na adalah minyak kelapa yang digunakan. ga seperti rumah makan kebanyakan yang menggunakan minyak sawit olahan untuk menggoreng makanan mereka, di sini digunakan minyak kepala yang masih memiliki aroma khas kelapa di dalam na. jadi walao bukan dimasak dengan santan tapi aroma kelapa itu muncul dari semua sajian.

penasaran? silahkan dicoba. rhe jelas ga ada hubungan dengan pemilik rumah makan n ga ada kepentingan promosi, sungguh makanan di sini enak -dalam artian sesuai dengan lidah rhe-. jangan under estimate dengan rumah makan yang seperti na sempit dari depan cz tempat ini ternyata melebar di bagian belakang na. banyak kursi kosong yang siap menampung perut-perut kelaparan atau penasaran dan dijamin pengunjung puas saat meninggalkan na :)
-***-
related posts: 
- previous: dusun bambu
- next: kopi ireng
embun mandala wangi
"i'll be there for you
 when the rain start to pour
 i'll be there for you 
 like i've been there before
 i'll be there for you 
 'cause you're there for me too"

#i'll be there for you-the rembardts

tiga tahun lalu kami berkenalan di gunung gede. 3 tahun kemudian -sekarang- kami kembali melakukan pendakian ke sebelah na, gunung pangrango. semacam hutang yang belum lunas atau sebuah alasan untuk reunian. pilihan mana pun, itulah yang ngebuat rhe langsung ngeiyain pas diajakin naik minggu itu juga -padahal terakhir nanjak sekitar 6 bulan yang lalu-. beda na kalo waktu itu rhe kenalan dengan 4 orang dari bandung, sekarang cuma 2 orang yang reunian. sedangkan 2 lain na adalah kenalan baru. team: acep, awi, jun n igus.
3 years ago
bukan bermaksud meremehkan gunung, tapi karena udah pernah ngelewatin track na maka ga sempet latihan fisik -ya iya lah, diajakin minggu itu untuk naik minggu itu juga-. ngerasa pernah, kami pun membuat target waktu yang seperti na cukup optimis untuk langsung sampai puncak. alhasil.... let's we see ;)


how to get there:
- yang unik dari perjalanan kali ini adalah kami menyewa ambulance (200 rb) dari jakarta ke cibodas. kalo biasa na isi ambulance adalah pasien, kali ini isi na adalah manusia sehat dengan carrier masing-masing. karena langsung dianter sampai parkiran cibodas jangan tanya akses angkutan umum -ga ngebantu yaks :D-
- untuk akses dengan angkutan umum dari kampung rambutan ada di perjalanan ke gunung gede
kru ambulance
kru di dalam ambulance terdiri dari 4 orang -minus awi yang nyusul naik motor dari depok-. kami sampai sabtu dini hari n nunggu awi seperti biasa di warung kang idi. start tracking jam 8 pagi dengan sedikit insiden, ternyata tracking na wajib pake sepatu -baru tau-. trus rhe ketangkep dunk cz cuma pake sandal gunung, hiks -padahal ga semua yang pake sepatu itu adalah sepatu yang aman dipake tracking ke gunung, masih mendingan sandal gunung-. 

untung ga disuruh pulang cuma disuruh bayar biaya materai 10 ribu. apa maksud na ini? kalo ada audit pasti udah jadi temuan, ada peraturan yang disiapkan untuk terjadi na pelanggaran. bukan na dilarang naik tapi disuruh bayar materai untuk surat pernyataan. harga na pun di-mark up dengan alasan beli na harus di cibodas. ga tau deh akhir na tu duit beneran buat beli materai atau masuk ke kantong penjaga na. nyebelin! btw, rhe salah juga sih udah ngelanggar aturan na -jangan dicontoh-.
refresh
rencana awal jam 12 makan siang di kandang badak lanjut jam 1 jalan ke puncak trus ngecamp di mandala wangi. harus na bisa cz kami ga terlalu banyak berhenti untuk mengeksplor destinasi wisata sepanjang jalur pendakian karena udah puas lewat jalur cibodas saat ke gunung gede. skip telaga bodas, skip air terjun cibodas dan kami hanya sempat menyegarkan diri di air terjun kecil yang berada persis di sebelah kanan jalur pendakian, 1 pos setelah air terjun cibodas.

gerimis udah jadi hujan saat itu. jalanan yang ramai pendaki dan runner -kebetulan barengan event running- akhir na membuat kami mulai terpisah satu per satu pas istirahat pasang ponco di jalan -maklum track na sekarang ga hutan banget, lebih halus dengan susunan dan tangga-. mengira awi n jun di depan sementara acep n igus di belakang, rhe berusaha naikin speed biar bisa ketemu salah satu orang di depan. tapi setelah jalan lama sama sekali ga nemu. nyaris nyerah bukan karena capek tapi karena hujan deras, mo nanya lanjut jalan or buka bivak?

lewat beberapa pos sendirian sampai sebelum air panas ada yang buka tenda trus numpang neduh ;). ingat kesepakatan awal mepo selanjut na kalo terpisah adalah air panas maka rhe memaksa tetap jalan sampai pos air panas. kami memang memiliki speed yang berbeda sehingga terbiasa jalan terpisah sesuai speed masing-masing. tapi ini pisah na udah kelewatan, hua...
rendezvous!
ternyata sebelum lewat air panas ketemu awi yang nginfoin kalo jun ternyata di belakang rhe -kapan dia ngilang ke belakang na?-. senang bisa ketemu orang setelah jalan ujan-ujan sendirian. nunggu yang lain di pos air panas sampai anggota kembali lengkap n tracking dilanjutkan. saat naik ke atas kembali kejadian pisah jalan, kali ini rhe urutan kedua dari belakang -bangga-. kebetulan jalanan dari kandang watu ke kandang badak memang enak dinikmati sendirian. ditambah kabut dan hujan yang membuat nuansa mistis na makin berasa, syahdu. ntah kenapa seneng aja dengan suasana beginian, cocok untuk ngomong ma diri sendiri. bahasa psikologi na: mengintrospeksi diri >.<.

belum lama mengintrospeksi diri udah nyampe aja di kandang badak, lokasi yang harus na menjadi persinggahan kami untuk makan siang. jun n igus udah nongkrong anget di warung sementara ujan makin deres. langsung nyari awi yang sampai duluan n udah nandain tempat untuk ngebivak. karena flysheet dibawa acep jadi harus nunggu ni anak. ga lama ditunggu ni anak na muncul. cepet-cepet pasang flysheet trus masak mie rebus. ngangetin badan desek-desekan bertiga sementara ujan berubah jadi badai. rencana awal untuk langsung muncak seperti na harus ditunda sampai badai reda. sampai jam 3 sore keadaan masih ga berubah dan kami pun memutuskan untuk buka tenda di kandang badak dan melanjutkan perjalanan subuh nanti.

malam perlahan menjelang saat semua pakaian dan bawaan sudah mulai basah. bukan na makin reda tapi angin makin menderu saat malam semakin larut. ditambah tenda berada di jalur air, lengkap sudah: dingin dan basah.
view dari puncak sesaat setelah fajar
ga kebayang ngecamp di mandala wangi dengan kondisi angin kencang tanpa pohon tinggi, berasa mo terbang pasti tu tenda. sebuah keputusan bijak ketika kami ga memaksakan diri untuk tetap tracking malam dan ngecamp di mandala wangi. kita cuma bisa berencana sedangkan alamlah yang memandang kita sambil menguji atau menertawakan na.

subuh kami melanjutkan perjalanan mengejar sunrise ke puncak pangrango. tapi karena banyak na pepohonan dan kondisi sehabis hujan, kabut menutupi pemandangan di puncak. sang surya pun hanya sedikit mengitip dari balik awan. tapi kepuasan ini ga bisa ditutupi. bukan karena menaklukkan puncak tapi karena keberhasilan menaklukan diri sendiri. setelah 3 tahun berlalu -normal na kondisi fisik menurun- ternyata masih bisa jalan mulus sampai puncak. ga cuma sampai tapi juga lebih cepet dari sebelum na. ntah karena udah pernah jadi udah tau karakter track na atau karena tim na. thank god i made it.
full team
puas narsis dan menikmati fajar, kami pun turun ke mandala wangi buat sarapan -salah fokus- :D. ternyata kabut membuat kami diam sejenak dan lama-lama malas bergerak. padahal udah ngebayangin keindahan padang edelweiss dari sajak yang pernah rhe dengar di masa sma.

aku cinta padamu, pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
#mandala wangi-pangrango-soe hok gie

sepenggal sajak yang membuat rhe pengen melihat langsung pesona yang mengilhami seorang aktivis mahasiswa sekaligus pencinta alam, soe hok gie, menggoreskan pena na. pesona yang membuat na jatuh cinta.
mandala wangi
cukup lama diam sambil bercakap dengan runner sekaligus pendaki senior yang sukses ngecamp di sini saat badai. hasil obrolan na kami belajar banyak soal logistik, hidup sehat dari makanan yang dibawa. bebas msg dan ga ada makanan instant. wajib dicoba untuk pendakian selanjut na. malu juga karena setelah belajar banyak kami tetep masak mie instan di samping mas na -ops-.

akhir na matahari pun mulai muncul mengusir kabut. keluarlah pesona asli mandala wangi dengan padang edelweiss dan air terjun kecil yang tersembunyi di antara na. sungai yang seperti na dibilang dalam sajak gie di atas.
dia yang tersembunyi di antara edelweiss
embun pagi yang masih terjebak di tunas-tunas edelweiss membiaskan cahaya pagi itu. rhe juga cinta mandala wangi gie, thanks sudah mengenalkan sajak yang membuat rhe pengen bisa ke sini. hutang yang lunas terbayar, sedangkan hutang lain muncul karena belum sempat ngecamp di sini. selalu ada kesempatan kedua. saat na turun, kapan lagi kita naik dan ngecamp di sini. reunian sekaligus nambah teman baru. bersyukur masih diberi waktu untuk mengenal dan menikmati semua na. karena rhe belumlah pencinta alam, rhe masih saja penikmat alam.
puncak pangrango
hidup adalah soal keberanian,
menghadapi yang tanda tanya
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah, dan hadapilah
#mandala wangi-pangrango-soe hok gie
where do we go after this?
 doc: by awi n jun 
NewerStories OlderStories Home