nectar hunting at tegal alun
"if you wanna be my lover, you gotta get with my friends
 make it last forever friendship never ends
 if you wanna be my lover, you have got to give
 taking is too easy, but that's the way it is"

#wanna be-spice girls

jika kau ingin merasakan pertemanan sesungguhnya cobalah mendaki gunung. dan jika kau ingin mendaki gunung sambil bersenang-senang, cobalah ke papandayan. gunung ini sering digunakan untuk camping ceria pendaki pemula atau orang-orang yang ingin punya pengalaman mendaki tapi belum siap untuk berhadapan dengan gunung sebenarnya. bukan bearti papandayan bukan gunung sebenarnya ya, tapi sering orang mempersepsikan mendaki papandayan itu ya nge-camp di pondok saladah, paling jauh sampai tegal alun. salah, seperti gunung lainnya, papandayan juga punya puncaknya. dimana dia?

how to get there:
- naik angkutan umum apapun dari lokasi asal ke terminal guntur di garut
- dari terminal guntur naik elf (20 ribu/orang) sampai pertigaan indomart. 
- ganti dengan pick up (20 ribu/orang) sampai pos pendaftaran. 
- untuk masuk ke wilayah papandayan dikenakan retribusi 15 ribu/orang yang tidak ditanggung oleh supir pick up dan simaksi 3ribu/orang
keramaian papandayan sebelum pendakian
suasana papandayan sekarang tidak seperti 3 tahun lalu. pos pendaftaran yang saat itu menjadi satu dengan gerbang retribusi sudah berpindah tempat. biaya yang dikenakan ke pendaki pun double, biaya retribusi dan simaksi. pelataran yang dulu sepi pun sekarang penuh dengan kendaraan baik motor, mobil bahkan bus pariwisata. kedai dan penjual cindera mata pun mulai ramai menjamur di kawasan wisata ini. papandayan sudah berubah menjadi kawasan wisata.

pelataran saja sudah berubah drastis, bagaimana dengan camping ground dan puncaknya nanti?

jalur pendakian papandayan mengalami banyak perubahan setelah terjadi longsor 2013. jalur awal di kanan yang memotong sungai semakin susah dilewati karena tertutup longsoran. jalur baru yang digunakan di sebelah kiri, lebih curam dan langsung menuju hutan mati. jalur ini terdiri dari pasir licin walau lebih pendek dibanding jalur semula.
antrian pendaki papandayan
semula kami memilih jalur ke arah air terjun, lebih terjal dan tidak jelas, karena jalur utama sangat ramai. menjauhi antrian pendaki yang tampak seperti semut-semut yang berbaris rapi. jalur pilihan kami ini tidak jelas, hanya terdiri dari batu-batu berbalut belerang yang runcing dan berserakan. belum lagi aroma sulfur yang kuat menusuk hidung. sungguh bukan pilihan menarik kecuali karena sedikitnya pengunjung yang melalui jalur ini. 

tapi jangan tertipu dengan penampilan jalur yang sepi karena ternyata jalur ini tidak terhubung dengan hutan mati. kami harus turun dan berputar kembali ke jalur pendakian normal dan mengantri bersama pendaki lain yang tidak semuanya dalam kondisi yang cukup prima. tertarik dengan pasangan kakek-nenek yang saling membantu dan mendukung satu sama lain untuk tetap melanjutkan pendakian. melihat tangan yang mulai layu sang kakek menopang tangan rapuh si nenek supaya bisa sampai di atas bersama. mampukah mereka tetap bersama sampai pondok saladah?
jalur sepi yang tidak memberi janji
kembali ke hutan yang semati namanya, di sini hanya terdapat ranting-ranting hitam dan tanah kering yang meninggalkan pasir di hidung saat kau bernafas dan debu di mulut saat kau bicara atau mengunyah makanan. tidak menyenangkan untuk berdiam diri lama, hanya saja pemadangan yang disajikan memang tidak bisa dilewatkan. apalagi selepas fajar dan menjelang senja.

kami lebih memilih langsung melanjutkan ke pondok saladah sebelum semakin penuh pengunjung. saat kami sampai, camping ground ini sudah mulai penuh berdiri tenda-tenda kosong. datang awal bukan jaminan mendapatkan lokasi nenda yang memadai. karena fungsinya yang mulai berubah menjadi tempat wisata, pondok saladah sudah mulai diisi penyelenggara open trip yang mendidikan tenda sebelum peserta datang. semacam pondokan dengan nuansa alam, ga perlu susah menbawa dan mendirikan tenda, apalagi memasak dan membawa bahan makanan.
hutan mati papandayan
beberapa pelancong ini sepertinya belum cukup siap berhadapan dengan alam. saat sore menjelang, duduk dan berbincang di depan tenda saat camping ceria merupakan hal wajar sampai tiba-tiba pemandangan mengejutkan muncul di depan kami. antara tidak percaya sambil mengusap-usap mata. seorang guru pendamping sekolah menengah membawa ranting di setiap tangannya melintasi camping ground

apakah benar itu bapak guru? melihat atribut nama sekolah yang ada di celananya, kemungkinan itu benar guru. apakah benar itu ranting? apakah dia akan menggunakannya sebagai kayu bakar? atau dia mengambilnya sebagai pembuktian? sayang aku tidak sempat mengabadikan lewat kamera karena terlalu bengong menatapnya. dua ranting itu adalah pohon edelweiss. terbayangkan bagaimana gondoknya kami yang melihat langsung salah satu perusakan alam ini. salah kami juga karena tidak berani menegur bapak guru ini secara langsung, hanya meneriakan sindiran yang tampaknya juga tidak dia perhatikan. janganlah orang seperti ini dipercaya sebagai guru yang dicontoh murid-muridnya.
pondok saladah: kontrasnya pemandangan ke atas dan ke bawah
malam menjelang dan langit dipenuhi bintang. tidak ada yang dapat kukatakan selain mengagumi keindahan langit malam itu, cerah dan bertabur bintang. hanya mampu mengabadikannya dengan mata yang tidak memiliki keterbatasan dibanding kamera digital apalagi smartphone. privilege untuk mereka yang melihat langsung pemandangan ini walau hawa dingin yang membuatmu rindu kasur. sebenarnya suhu di sini tidak sedingin cikuray. aku sempat berkeliaran dini hari dari lokasi tenda ke mata air hanya bercelana pendek dan kaos trus ditegur oleh bapak penjaga mushola. okay, sepertinya walau udara tidak terlalu dingin tapi penutup tubuh yang layak tetap diperlukan.

fajar menjelang dan kami berempat -team kali ini rhe, acep, jun, igus- tidak ada yang berniat berburu sunrise. mungkin lelah malam sebelumnya karena tidak tidur semalaman membuat kami ingin membayar waktu istirahat kami yang terhutang. menjelang terang barulah kami mulai keluar tenda untuk mengejar puncak. dan ternyata, pencarian puncak ini tidak semudah 3 tahun lalu karena jalur yang berubah. mencoba jalur mata air yang sekarang sudah menyerupai hutan lebat. sepertinya jalur ini sangat jarang dilalui pendaki untuk sampai ke tegal panjang. saat ini jalur dari hutan mati lebih common digunakan
pondok saladah vs hutan mati
jalur mulai terlihat setelah melewati padang edelweiss sebelum tegal alun. dari sini kita bisa melihat ke bawah, ke pondok saladah. ternyata camping ground ini lebih ramai dari yang kuperkirakan, sesak dan penuh tenda dilihat dari atas. sementara melihat hutan mati, kau akan menemukan bahwa tempat itu sudah tidak layak mendapat julukan hutan lagi. pohon kering mulai gundul, ditebang sebagai kayu bakar -ini bukan tuduhan tapi lagi-lagi kami menyaksikannya sendiri- serta tanah yang semakin kering dan tandus tanpa usaha penghijauan. miris memang melihat pemandangan ini.
sambutan dari tegal alun
tapi jangan bosan dulu karena pemandangan yang memanjakan mata menantimu tak jauh dari sana. tegal alun. inilah salah satu daya tarik gunung papandayan yang bisa dibanggakan. padang edelweiss yang menyajikan hamparan bungan keabadian. dijamin tidak akan bosan jika kau berlama-lama di sini. sebenarnya lokasi ini cukup luas dan banyak tanah lapang untuk nenda. tapi katanya tidak disarankan untuk nenda di sini karena masih sering dikunjungi binatang buas.
masih belum bosan dengan edelweiss
andai tidak mengejar puncak, ingin rasanya bermalas-malasan lama di sini. menikmati pemandangan langit bersemburat awan yang berpadu cantik dengan bunga edelweiss. seakan mengajak kita untuk berdiam diri sejenak sambil memanggil "lupakan bebanmu, melangkahlah ringan sepertiku, nikmatilah aku" -halusinasi-. namun karena belum kesampaian ke puncak 3 tahun lalu ini masih membayang, maka kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

ternyata di antara kami tidak ada yang expert untuk menemukan jalur ke puncak. dari kami berempat, hanya igus yang baru kali pertama ke papandayan. tapi tetap saja, sebanyak apapun, jangan pernah ngaku sebagai penakluk alam karena mereka selalu punya cara sendiri untuk mengejutkan kita. dan kejutan kali ini adalah jalan ke puncak yang tidak berhasil kami temukan
kami yang masih penasaran dengan puncak papandayan
sebanyak apapun kami menebak jalur yang ada justru menjauh dari puncak papandayan. mencoba mengingat patokan yang diceritakan awi -salah satu teman kami yang ke puncak beberapa minggu sebelumnya-, mencari dan mengikutinya. semua sudah sesuai arahan, tapi yang kami dapat adalah jalan buntu jika bukan jalan ke arah jurang. tapi kami mendengar suara dari arah puncak, dari orang-orang yang sudah berhasil sampai ke sana. jadi sebenarnya puncak itu dapat dijangkau, hanya kami saja yang belum berhasil menemukannya.

melihat waktu yang semakin siang dan perjalanan kembali ke garut yang cukup lama, maka kami memutuskan pencarian kami saat itu. tapi saat bertemu dengan rombongan lain, kami masih penasaran dan bertanya bagaimana cara ke puncak. ternyata rombongan ini juga tidak tahu. tidak banyak yang tahu akses ke puncak papandayan, pikirku. setelah salah mendefinisikan puncak papandayan 3 tahun lalu, kali ini malah gagal menemukan jalan ke puncak papandayan. padahal kami tahu puncak sudah ada di depan kami, hanya saja jurang membentang dari lokasi kami sampai dengan puncak. kalau kau tahu, tolong beritahu padaku -masih penasaran-.
conclusion: belum berhasil kali ini
kembali ke pondok saladah, saatnya berbenah. menghabiskan bekal logistik dan segera turun mengejar bus ke jakarta. jangan lupa periksa kebersihan camping ground yang kau tinggalkan dan bawa turun sampahmu. gunung bukan tempat sampah. kami memang bukan penggiat lingkungan, tapi kami sedikit mencoba menjaga alam dengan membawa turun sampah kami dan sampah lain yang kami temukan di jalan. 
kalau cuman nyampah jangan naik gunung
ide jun untuk memasang "tulisan" pada punggung trash bag menarik perhatian pendaki yang sempat berpapasan dengan kami -dengan igus lebih tepatnya-. ada beberapa orang yang kulihat berusaha mengimbangi kecepatan langkah kami supaya bisa memotret tulisan ini. tapi malang bagi igus karena rasa intimidasi dari orang yang membacanya sampai harus menutup rapat wajahnya >.<.

PS for the peak:  next time kita harus ke sini lagi, bawa awi, supaya dapat sampai puncaknya. full team ya. -***-
terminal 2 changi airport
sebagai salah satu bandara terbesar seasia tenggara dan merupakan bandara internasional yang sering digunakan beberapa maskapai penerbangan untuk transfer flight, wajar jika banyak fasilitas ditawarkan oleh changi airport. seberapa lama waktu transitmu dan kapan saat itu pasti mempengaruhi aktivitas yang kau lakukan di sana. dengan waktu transit hampir 9 jam di malam hari -tour keliling singapura terakhir pukul 6 sore-, banyak hal seru -selain tidur- yang bisa kau lakukan selama mengunggu di sini. apa saja kegiatan seru itu?

free internet kiosks
transfer area di changi airport
salah satu kebutuhan dasar manusia saat ini adalah koneksi internet. dengan tarif jaringan ponsel yang biasanya mahal di luar negeri, fasilitas wifi selalu menjadi buruan. jangan khawatir tentang wifi, tersedia di semua terminal. selain itu juga terdapat internet kiosks yang juga bisa dikases bebas di setiap terminal. tidak perlu mengantri karena perangkat komputer yang disediakan cukup banyak dan mudah ditemukan. kekurangannya adalah adanya durasi 30 menit untuk sekali login ke sebuah komputer. jika waktumu habis maka kau harus login ulang untuk menggunakan fasilitas internet gratis ini. tidak ada batasan berapa kali login untuk setiap komputer, hanya saja cukup mengganggu ketika koneksimu terputus karena waktu habis di saat asik browsing.

melukis di woodblock rubbing station
cetakan gambar gosok
tersedia di terminal 2 dan 3, di sini kau bisa melukis atraksi, tempat wisata atau icon singapura. dengan waktu transit yang singkat kau bisa melukis dengan cepat karena di sini disediakan cetakan, kertas dan pensil warna/crayon. cetakan seukuran kertas a4 cukup kau timpa dengan kertas yang tersedia lalu usapkan pensil warna/crayon. kau bisa menggambil gambar dari 1 cetakan atau memadukan padankan gambar yang ada di cetakan yang berbeda untuk mendapatkan cerita dalam gambarmu. aku memilih memoleskan satu gambar saja, merlion, yang menjadi icon negara ini.

menikmati cerianya bunga matahari
sunflower garden  di changi airport
dari semua tanaman hidup yang ada di bandara ini, aku paling suka dengan hamparan bunga matahari yang ada di rooftop terminal 2. selain bisa melihat langsung aktivitas keluar masuknya pesawat, warna cerah dari jejeran bunga matahari sejenak menyegarkan mata sebelum kau kembali dalam pemandangan kabin untuk penerbangan selanjutnya. bunga-bunga ini bagus dinikmati siang maupun malam hari.

pemandangan ini lebih bagus saat malam datang -terlalu mainstream untuk memandangnya di siang hari-. hanya saja kameraku tidak cukup bagus untuk mengabadikan moment sinar lampu kekuningan jatuh di kelopak-kelopak kuning ini -terpaksa mengambil fotonya saat matahari mulai keluar-. kau harus melihatnya sendiri untuk tahu bagaimana suasana malam dengan rintik gerimis yang membiaskan cahaya lampu membuat bunga-bunga ini seakan mempunyai nyala mereka sendiri. impas sudah paparan udara malam di tempat terbuka yang harus kau rasakan. plus point lain jika kau datang di sini malam hari, udaranya lebih segar dibanding siang dimana lokasi ini digunakan sebagai smooking area bagi mereka yang ingin merokok.

menenukan anggrek langka di orchid garden
berbagai macam anggrek di orchid garden
aku memang bukan penggemar anggrek dan tidak tahu jenis-jenisnya. tapi karena paling sering melihat anggrek ungu, sementara aku bisa menemukan anggrek dengan berbagai warna dan bentuk, ntah mengapa rasanya senang berada di antara bunga-bunga yang ditanam di terminal 2 ini. hampir semua warna terwakili dari bunga-bunga yang ada dengan bentuk yang berbeda pula. rista -patner jalanku yang orang tuanya memiliki bisnis tanaman hias- bahkan menghabiskan banyak waktu untuk memotret hampir seluruh koleksi. menurut dia, banyak jenis anggrek di sini yang bahkan belum pernah dia temukan di indonesia. jadi terbayangkan bagaimana serunya menghabiskan waktu dengan menikmati koleksi di orchid garden. ayo, menurutmu koleksi mana yang paling langka?

dengarkan nyanyian alam versi enchanted garden
imitasi yang menarik hari di enchanted garden
apakah kau penat dengan keriuhan orang atau lalu-lalang penumpang yang berpindah dari penerbangan yang satu ke penerbangan lain? atau kau lelah setelah penerbangan panjang atau menunggu terlalu lama penerbangan selanjutnya? bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja di setiap terminal?

lupakan sejenak kebisingan itu dengan mendengarkan nyanyian alam yang dimainkan di enchanted garden. suara jangkrik dan desir air berpadu dengan aroma dupa segar berhasil membuatku rileks sesaat di terminal 2 tidak jauh dari orchid garden. pengoperasian musik ini menggunakan sensor yang hanya akan dimainkan jika ada pengunjung yang datang. selain enak untuk beristirahat, pemandangan dari bunga-bunga potong yang ditata dalam cawan kaca patri raksasa ini juga indah untuk dilihat -dan difoto tentunya-. satu yang membuatku penasaran adalah kapan petugas bandara mengganti bunga-bunga ini mengingat kepadatan aktivitas bandara. jika kau tahu, tolong informasikan padaku.

ini kolam koi, bukan kolam permohonan

kolam koi
berada di tengah orchid garden, kolam koi ini menjadi salah satu penyeimbang suasana kaku bangunan bandara dengan riak air yang dinamis dan koi yang hidup di dalamnya. mungkin karena pada dasarnya ini adalah kolam -mengabaikan koi yang hidup di sana-, ada juga pengunjung yang melemparkan koin ke dalamnya. ntah apakah mereka berpikir setiap kolam adalah kolam permohonan, atau memang mereka menggunakannya sebagai donasi untuk pemeliharaan koi. asal jangan sampai koin-koin ini termakan oleh koi yang mengancam kelangsungan hidup mereka, sampai saat aku datang belum ada larangan untuk 'membuang' koin ke dalam kolam.

dengan segudang aktivitas seru di atas jangan khawatir akan merasa lelah mengunjungi atraksi di terminal yang berneda. selain ada airport link, yang paling penting adalah adanya mesin pijat gratis yang mudah kau temukan di setiap terminal. tertarik menghabiskan waktu transit di changi atau sekedar main ke bandara internasional ini untuk dapat belanja murah di duty free-nya. pilih yang mana?
-***-
arwiga hotel
location: jalan sederhana nomor 53, sukajadi, bandung

setelah kali pertama mencoba penginapan di bandung, ini adalah kali kedua untuk kembali mencobanya. kali ini bukan lagi guesthouse melainkan hotel dan kami pesan melalui agoda -tepatnya, ka' erry yang memesannya-. selain harganya yang murah menurut situs booking online ini, lokasinya juga dekat dengan tujuan kami sebelumnya. hotel ini cukup mudah dijangkau dari farmhouse, hanya 2x angkot dengan waktu tempuh 30 menit.

how to get there:
- dari farmhouse menggunakan L300 ke terminal ledeng (3 ribu)
- dilanjutkan dengan angkot biru ledeng-margahayu (3 ribu), turun di depan arwiga hotel. hotel arwiga berada di kanan jalan dari arah ledeng, berseberangan dengan ardan hotel.
deretan kamar arwiga hotel
walaupun mudah dijangkau, hotel ini susah ditemukan pada awalnya karena sedang dalam renovasi dan tidak memasang papan nama. nama arwiga baru kami temukan setelah masuk ke dalam lobi. langsung menuju resepsionis menunjukkan bukti pemesanan dan kami diantar ke kamar seharga 15.99 usd (room 12.88 usd, tax 2.71 usd). murah tampaknya dibanding harga on the spot yang kami lihat sekitar 400an ribu. tapi tunggu sampai kau lihat kamarnya.

jangan bayangkan kamar kami berada di salah satu deretan kamar di atas. jangankan menghadap kolam dengan sirkulasi udara yang baik, tetangga kamar pun kami tak punya -drama-. kamar seharga 15.99 usd yang kami peroleh berada di dead spot, pada gang buntu dengan dinding polos di kanan kiri dan hanya ada 1 pintu di ujungnya. seakan gudang yang dimanfaatkan, kamar 102 ini berada. mungkin karena letaknya inilah sewa kamar ini murah.
interior kamar arwiga hotel
walaupun murah kami cukup puas dengan interior kamarnya. tempat tidur cukup bersih walau lemari yang tersedia tidak berpintu. kamar mandi dilengkapi air panas walau handuk yang mereka sediakan bau. ada fasilitas tv cable sebagai satu-satunya tontonan karena jendela kamar kami tidak menyajikan pemandangan apapun kecuali dinding lorong yang bewarna merah muda. sebagai compliment disediakan air mineral dan serbuk jahe merah, sayang tidak ada termos atau pemanas air. kami baru mendapatkannya ketika memintanya di resepsionis. satu catatan, mungkin karena lokasi kamar atau alasan lain, kami tidak mendapatkan akses wifi yang katanya menjadi salah satu fasilitas di sini.

ketika malam datang kamar kami tidak kedap. suara dari luar terdengar dari dalam kamar yang berada di ujung ini. terdapat sebuah pintu lagi di dalam kamar yang tidak dapat dibuka dan tidak tahu terhubung ke mana. sedangkan dinding di belakang tempat tidur ternyata terbuat dari partisi yang sepertinya terhubung ke ruangan pengurus hotel yang berisik. tapi setidaknya kami tetap bisa menikmati malam sampai bangun siang.
sarapan kenyang versi arwiga
sebagai penutup yang dapat menghibur malam kami sebelumnya adalah ketika saatnya sarapan. tidak seperti guesthouse yang pernah aku huni di daerah setia budi -sewanya sama dengan arwiga- sarapan di sini lebih mengganjal perut. sarapan terdiri dari 3 pilihan: nasi goreng, kwetiau goreng dan roti dengan banyak pilihan isian. sedangkan untuk minumnya disediakan teh, kopi dan jus jeruk serta jambu.

puas mengisi perut kamipun meninggalkan hotel dan melanjutkan perjalanan. overall, arwiga cukup untuk numpang tidur. tapi jika kau berniat bermalas-malasan dan menghabiskan waktu di kamar, disarankan mencari penginapan dengan fasilitas kamar yang lebih memanjakan untuk menginap. bukan hotel atau penginapan dengan fasilitas seperti kamar kos
-***-
NewerStories OlderStories Home